Ketika si Kecil memasuki tahap SD, mereka akan mengalami perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Pada masa ini, perkembangan emosi anak menjadi lebih rumit dibandingkan saat mereka berada di TK. Mereka akan mengembangkan kemampuan yang lebih baik dalam mengenali dan menilai emosi.
Pemahaman tentang emosi sangat penting dalam konteks sosial agar si Kecil dapat merespons peristiwa di sekitarnya dengan cara yang sesuai. Tanpa pemahaman ini, si Kecil mungkin akan menghadapi kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial dan kesulitan dalam menunjukkan sikap pro-sosial.
Selain itu, jika si Kecil tidak mampu mengendalikan emosi dengan baik, mereka dapat mengalami alienasi, konflik dengan teman sebaya, atau mengganggu proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, Papa dan Mama perlu belajar bagaimana membantu si Kecil dalam mengelola emosi mereka sehingga mereka dapat tumbuh dengan kepribadian yang matang. Beberapa orang juga berpendapat bahwa kecerdasan emosional si Kecil dipengaruhi oleh pola pengasuhan orang tua, namun hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahaminya dengan lebih baik.
Baca juga: 5 Cara Membantu Anak Mengekpresikan Emosi dengan Baik
Tahap perkembangan emosi anak SD

ilustrasi anak marah (pexels.com/Alexander Dummer)
Masa Sekolah Dasar merupakan periode yang cukup panjang dalam kehidupan si Kecil. Selama masa ini, mereka mengalami berbagai fase perkembangan, mulai dari masa kanak-kanak hingga awal remaja. Interaksi sosial si Kecil juga berkembang pesat di sekolah ini. Mereka memiliki kesempatan untuk berteman dengan banyak anak baru dan membangun hubungan yang lebih dalam.
Dalam hubungan pertemanan ini, kompleksitasnya meningkat dan tentu saja terdapat perbedaan pendapat di antara mereka. Untuk membantu si Kecil melewati tahap yang penting ini, Papa dan Mama perlu memahami perkembangan emosi anak SD sesuai dengan usianya dan juga cara-cara untuk mengelola emosi yang mungkin kadang meletup-letup pada anak SD.
1. Usia 5–6 tahun
Pada usia 6 tahun, si Kecil biasanya mulai memasuki Sekolah Dasar. Mereka sangat menikmati bermain bersama teman sebayanya. Oleh karena itu, Papa dan Mama perlu mengakui bahwa si Kecil sudah tumbuh dan tidak perlu diperlakukan seperti bayi lagi.
Pada usia ini, mereka sudah mampu mengikuti aturan dan perintah sederhana. Penting untuk mengajarkan kepada mereka keterampilan sosial dasar seperti meminta maaf dan menghargai orang lain.
2. Usia 7–8 tahun
Pada masa ini, biasanya si Kecil mulai duduk di kelas 1 dan 2 SD. Mereka semakin memahami pentingnya persahabatan dan mulai memiliki teman dekat atau sahabat. Selama periode ini, mereka akan belajar menghadapi masalah yang lebih kompleks dan rasa tanggung jawab mereka juga semakin berkembang.
Sebagai orang tua, penting untuk tidak memanjakan si Kecil dan melakukan segala hal untuknya dari awal hingga akhir. Sebaliknya, berikanlah kepercayaan pada si Kecil untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sederhana, seperti merapikan kamar dan menyiapkan buku serta seragam mereka sendiri. Hal ini akan membantu melatih kemandirian dan tanggung jawab mereka.
3. Usia 9–10 tahun
Pada saat si Kecil berada di kelas 3 dan 4, sebagai Papa dan Mama, mungkin akan terasa bahwa teman-teman lebih penting bagi mereka daripada keluarga. Ini adalah tahap perkembangan anak SD yang perlu kita terima dengan lapang dada, karena pada tahap ini mereka semakin dewasa dan dunia mereka semakin luas. Anak-anak mulai menjadi lebih mandiri dan mengambil keputusan sendiri.
Tidak selalu mudah bagi orang tua ketika anak tidak lagi dengan mudah mengikuti apa yang kita katakan. Di satu sisi, kita ingin anak-anak tumbuh menjadi individu yang bebas dan mandiri, tetapi di sisi lain kita juga perlu mengajarkan nilai-nilai positif kepada mereka.
Yang dapat kita lakukan sebagai orang tua adalah memberikan ruang bagi mereka untuk mandiri, sambil mengajarkan batasan-batasan sesuai dengan aturan dan nilai-nilai di rumah. Menemukan keseimbangan ini akan membantu anak-anak menjadi lebih percaya diri dan menghargai diri sendiri serta orang lain.
Baca juga: 4 Cara Untuk Mengasah Kecerdasan Emosional Anak
Cara mengendalikan emosi anak SD
Mengalami emosi dan merasa marah adalah hal yang manusiawi dan wajar. Namun, penting bagi kita sebagai Papa dan Mama untuk membantu si Kecil dalam mengendalikan emosinya, bukan sebaliknya.
Meskipun tidaklah mudah, itu adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua. Berdasarkan studi, anak-anak yang diajari oleh orang tua mereka tentang cara mengatasi emosi, cenderung lebih mampu mengendalikan dan menghadapi emosi mereka sendiri maupun emosi orang lain. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua.
1. Bantu anak mengenali tanda amarah
Ketika si Kecil merasa marah, biasanya ada beberapa tanda yang muncul, seperti detak jantung yang lebih cepat, otot yang menegang, tangan yang menggenggam, dan gigi yang gemeretak. Dengan mengenali tanda-tanda tersebut, si Kecil memiliki kesempatan untuk memikirkan bagaimana cara mengendalikan amarahnya sebelum emosi itu meledak dan sulit terkontrol.
2. Cari solusi bersama
Papa dan Mama dapat membangun komunikasi dengan si Kecil untuk mengatasi kemarahannya secara bersama-sama. Melalui cara ini, si Kecil akan menyadari bahwa yang perlu diatasi adalah kemarahannya, bukan dirinya sebagai individu. Namun, tidak semua anak merasa nyaman membicarakan emosinya secara terbuka.
Oleh karena itu, Papa dan Mama bisa mencoba terlibat dalam kegiatan si Kecil, seperti bermain bersamanya. Hal ini akan menciptakan suasana yang nyaman bagi si Kecil dengan kehadiran Papa dan Mama, sehingga dia akan lebih bersedia untuk membuka diri dan berbagi masalah yang dihadapinya. Pastikan si Kecil tahu bahwa Papa dan Mama selalu mendukungnya sehingga dia tidak perlu takut untuk berbagi.
3. Ajari anak cara mengendalikan emosi
Papa dan Mama dapat mengajarkan beberapa tips kepada si Kecil ketika dia mulai merasakan amarah: bernapas perlahan sambil menghitung sampai 10, meninggalkan situasi yang memicu konflik, membuka dan mengepalkan tangan untuk mengurangi ketegangan, mencari tempat yang tenang untuk menenangkan diri, dan berbicara dengan seseorang yang dipercayainya. Selain itu, mengalihkan amarah dengan melakukan aktivitas yang lebih positif, seperti bermain di taman atau berjalan-jalan di alam terbuka, juga dapat membantu meredakan emosinya.
Melihat perkembangan emosi anak SD yang semakin kompleks dan penting dalam kehidupan mereka, Papa dan Mama memiliki peran yang sangat krusial dalam membantu si Kecil mengelola dan mengenali emosinya. Dengan memahami dan mendukung perjalanan emosional anak, serta memberikan pengajaran dan contoh positif dalam mengatasi kemarahan dan konflik, Papa dan Mama dapat membantu si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang matang, percaya diri, dan mampu menjalin hubungan sosial yang sehat.
Dapatkan informasi seputar tips parenting, rekomendasi aktivitas anak, dan resep di Kiddo.id. Papa dan Mama juga bisa mengakses Jurnal Pertumbuhan by Kiddo.id untuk memantau grafik berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala si Kecil.
Tunggu apa lagi? Segera unduh aplikasi Kiddo.id di Google Play atau kunjungi instagramnya di @id.kiddo.
Baca juga: 4 Tahapan Perkembangan Intelektual Pada Anak

