Tidak semua pola asuh bersifat baik untuk anak. Bila nurturing parenting fokus pada kasih sayang dan pengasuhan, tidak begitu dengan toxic parenting. Sesuai namanya, gaya pengasuhan jenis ini merusak kesehatan emosional anak.
Tak hanya mendidik anak lewat tindakan yang semena-mena, orang tua toksik menaruh ekspektasi berlebihan dan egoisme pada anak. Imbasnya, anak tumbuh menjadi individu yang tertekan dan memiliki sejumlah aspek negatif lainnya.
Baca juga: Permissive Parenting Dan Efek Jangka Panjangnya
Mengenal toxic parenting
ilustrasi orang tua memarahi anak (freepik.com)
Psychology Today mendefinisikan toxic parenting sebagai pola asuh di mana orang tua memperlakukan anak secara tidak hormat sebagai individu. Mirip authoritarian parenting, label ‘orang tua selalu benar’ dan penolakan berkompromi juga berlaku untuk pengasuhan ini. Alhasil, pola asuh ini menjadi racun berdampak negatif pada perilaku, sifat, dan karakter anak.
Meski umum dilakukan orang tua normal, pengasuhan beracun dianggap menjadi pilihan orang tua yang tidak dewasa, kasar, dan memiliki gangguan mental. Susan Forward menjelaskan orang tua bersifat toxic memiliki ciri umum, seperti
1. Memperlakukan anak seperti orang bodoh
2. Terlalu melindungi anak sehingga mereka merasa terkekang
3. Kerap membebani anak dengan rasa bersalah, seperti mengungkit kesalahan anak
4. Menurunkan rasa percaya diri anak lewat tindakan maupun ungkapan
5. Menolak menunjukkan kasih sayang dan perhatian pada anak
6. Tak segan memukul anak bila membuat kesalahan
Dengan pola asuh toksik, anak tumbuh dengan rasa bersalah, kecemasan, ketakutan, dan hal negatif lainnya.
Baca juga: Parenting Tanpa Berteriak, Lebih Baik Untuk Anak
Tipe toxic parenting
ilustrasi orang tua memarahi anak (pexels.com)
Secara umum, toxic parenting dikelompokkan menjadi tiga jenis. Papa dan Mama perlu mengetahui hal ini agar bisa menghindari pola pengasuhan ini.
1. Undemanding but supportive
Memperbolehkan anak melakukan apa pun tanpa konsekuensi sehingga terkesan membebaskan anak.
2. Demanding but not supportive
Memberikan ekspektasi tinggi tapi tanpa dukungan maupun umpan balik positif sehingga dinilai bersikap otoriter.
3. Undemanding and not supportive
Mengabaikan anak dan tidak memberikan harapan tinggi maupun umpan balik positif.
Pola asuh orang tua ada baiknya memiliki harapan atau target. Karenanya, Papa dan Mama perlu memberi opsi dan arahan serta dukungan pada anak, terutama selama masa tumbuh kembangnya. Dukungan ini pun bisa hadir dalam bentuk materi maupun non materi, misalnya lewat pujian atau menjadi pendengar yang baik saat anak bercerita.
Baca juga: 5 Tips Parenting Penting untuk Anak Usia 5 Tahun
Ciri-ciri toxic parenting
ilustrasi orang tua memarahi anak (freepik.com)
Pola asuh memberi dampak signifikan dalam pertumbuhan anak, termasuk bagaimana anak menilai diri sendiri, melihat orang lain, dan menafsirkan dunia. Untuk menghindari dan meminimalisir dampak buruk yang mengintai anak akibat toxic parenting, Papa dan Mama perlu mengetahui ciri-ciri pola asuh ini.
1. Membentak
Dalam mendidik buah hati, ada kalanya orang tua harus menahan emosi dan berhati-hati dalam menyikapi perilaku anak. Kontol emosi yang buruk hanya akan memicu kekerasan verbal yang merupakan salah satu ciri toxic parenting. Dampaknya, anak merasa ketakutan dan berpikir akan diperlakukan kasar kembali bila membuat kesalahan.
2. Terlalu mengontrol
Alih-alih memberi pilihan dan arahan, orang tua cenderung menentukan keputusan untuk anak. Mereka beranggapan si kecil belum memahami konsep salah dan benar. Dan untuk meminimalisir kesalahan, orang tua bersikap mengontrol, mendikte, dan mengekang.
3. Melakukan kekerasan fisik
Tak hanya kekerasan verbal, anak yang tumbuh dalam pola asuh beracun juga tak luput dari kekerasan fisik. Hal ini terjadi karena orang tua terpancing emosi dan sulit mengendalikan amarahnya. Hanya saja, tindakan ini tidak dibenarkan lantaran dapat menimbulkan stres, trauma, dan depresi pada anak.
4. Berlaku egois
Orang tua beracun identik dengan sikap egois. Misalnya, mereka menyuruh anak untuk terus belajar supaya masuk sekolah impian sesuai keinginan orang tua tanpa mengindahkan bakat dan minat si kecil.
5. Mengganggu privasi
Ciri toxic parenting yang cukup dominan selanjutnya adalah mengganggu privasi anak. Alih-alih memberi ruang bagi anak untuk berkembang, orang tua malah ingin tahu setiap kegiatan dan keinginan anak sehingga menghambat pertumbuhan sosial anak.
6. Tidak menetapkan batasan yang jelas
Sebagai pola asuh permisif, toxic parenting kadang membebaskan anak dengan memanjakan dan memenuhi setiap permintaan mereka. Dengan begitu, anak tumbuh tidak bertanggung jawab dan kurang mandiri.
Baca juga: Cara Terbaik Menjaga Kesehatan Mental Anak
Dampak toxic parenting
ilustrasi anak sedih (freepik.com)
Pola asuh yang toksik mempertaruhkan kesehatan emosional dan mental anak. Dalam jangka panjang, gaya pengasuhan ini menyulut emosi anak terhadap orang tua dan orang-orang di sekitar. Bahkan, tak jarang pengalaman ini akan merek terapkan kala dewasa nanti sebagai bentuk pelampiasan. Untuk lebih lengkapnya, inilah dampak buruk toxic parenting pada anak yang perlu Papa dan Mama.
1. Tumbuh menjadi individu yang kurang percaya diri
2. Sulit mengendalikan emosi
3. Sulit menerima hal positif dalam hidup
4. Sulit menjadi diri sendiri
5. Mengalami gangguan mental, misalnya trauma masa kecil berkepanjangan
6. Takut mengecewakan orang lain
7. Merasa tidak pantas dicintai
8. Sering menyalahkan diri sendiri
Baca juga: 6 Hal yang Memengaruhi Kesehatan Mental Anak
Cara mencegah toxic parenting
ilustrasi meluangkan waktu bersama anak (freepik.com)
Menurut Tatik Imadatus, M. Psi, dosen psikologi Islam IAIN Kediri, beberapa orang tua yang beracun tampil secara jelas, tapi ada juga yang menggunakan cara tersirat dan lebih halus. Hanya saja, mereka semua bersikap destruktif atau merusak. Untuk mencegah pola asuh ini, ada beberapa tips yang bisa dilakukan Papa dan Mama.
1. Berdamai dengna masa lalu
Orang tua yang dulunya diasuh dalam pengasuhan beracun perlu memaafkan masa lalu dan menerima pengalaman buruk itu. Dengan begitu, orang tua dapat belajar dari masa lalu dan mencegah terjadinya kesalahan dalam pengasuhan di masa sekarang.
Selain itu, orang tua juga perlu menerima kekurangan anak-anak. Bila mereka membuat kesalahan, berikan arahan dan disiplinkan mereka, alih-alih melampiaskan emosi.
2. Tingkatkan intensitas komunikasi dengan anak
Melalui komunikasi, orang tua dapat mengenal anak lebih dekat dan menghindari miskomunikasi. Cara ini membantu mencegah terjadinya toxic parenting serta menciptakan hubungan yang nyaman antara orang tua dan anak.
Untuk menciptakan komunikasi yang saling menghargai, Papa dan Mama perlu memberikan ruang dialog dan tidak bersikap menghakimi. Luangkan juga waktu untuk berkumpul bersama anak dan terlibat aktif dalam aktivitas mereka.
3. Kendalikan emosi
Orang tua yang beracun mudah kehilangan kendali, bahkan di depan anak. Karenanya, penting untuk menahan emosi bila anak membuat kesalahan. Pasalnya, kekerasan fisik maupun verbal hanya akan menyebabkan anak takut untuk terbuka dengan orang tua.
4. Beri kebebasan pada anak
Sama seperti orang dewasa, anak juga belajar lewat pengalaman. Bila orang tua memberi kebebasan pada anak, mereka memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri dan belajar dari kesalahan tanpa merasa dikekang. Tak hanya itu, tindakan ini menandakan kepercayaan orang tua pada anak sehingga mereka merasa lebih dihargai.
Pola asuh toxic parenting hanya menyisakan dampak negatif pada anak dari segala sisi. Untuk menanamkan kepribadian yang baik pada anak, Papa dan Mama perlu bijaksana dalam menentukan pilihan pengasuhan yang tepat.
Meluangkan waktu bersama anak dapat dilakukan dengan bermain game yang seru dan mendidik. Kiddo.id menawarkan permainan dan aktivitas anak yang direkomendasikan untuk tumbuh kembang si kecil, mulai dari calistung, kelas sensorik, hingga mengaji. Semoga informasi ini bermanfaat!

