Parenting Tanpa Berteriak, Lebih Baik Untuk Anak

Oleh Tanggal 28 Juli 2020

Parenting Tanpa Berteriak, Lebih Baik Untuk Anak
Ketika anak-anak berperilaku salah, berteriak terasa seperti respons alami. Terutama jika tingkat stres Mama Papa sedang memuncak. Memberikan toleransi dan memberi tahu secara lembut membutuhkan kesabaran yang ekstrim, sehingga berteriak terasa jauh lebih mudah dan lebih naluriah. Terlepas dari kenyataan bahwa meneriaki si kecil terasa seperti pelepasan emosi, suatu bentuk disiplin, atau mungkin cara Mama Papa untuk mendapatkan perhatian mereka, penting untuk memahami efek psikologis yang ditimbulkan apabila Mama Papa mulai berteriak Menurut Dr. Laura Markham, pendiri Aha! Parenting dan penulis Peaceful Parent, Happy Kids: How to Stop Yelling and Start Connecting, berteriak pada anak-anak adalah teknik pengasuhan yang perlu dihindari. Ia memiliki beberapa aturan dan tips untuk membantu Mama Papa belajar cara berhenti berteriak pada anak-anak. Yuk, simak terus artikel ini!

Efek Dari Teriakan

Mama Papa tentu tahu bahwa teriakan yang keras tidak membuat pesan menjadi lebih jelas. Hal ini pun berlaku pada anak-anak. Berteriak dapat membuat mereka sengaja mengabaikan atau berhenti memperhatikan, sehingga disiplin menjadi lebih sulit. Hal ini dikarenakan setiap kali Mama Papa menaikkan suara, si kecil menurunkan kemampuannya menerima pendapat Penelitian terbaru menunjukkan bahwa berteriak membuat anak-anak lebih agresif, secara fisik dan verbal. Berteriak secara umum, apapun konteksnya, adalah ekspresi kemarahan. Hal itu membuat anak-anak ketakutan dan membuat mereka merasa tidak aman. Disisi lain, menanggapi dengan tenang membuat anak-anak merasa dicintai dan diterima terlepas dari perilaku buruk yang telah ia lakukan. Berteriak yang disertai dengan penolakan dan penghinaan verbal dapat dianggap sebagai pelecehan emosional. Telah terbukti memiliki efek jangka panjang, seperti kecemasan, harga diri rendah, dan peningkatan agresi. Hal ini juga membuat anak-anak lebih rentan terhadap intimidasi karena pemahaman mereka tentang batas-batas yang sehat dan harga diri menjadi tidak seimbang.

Bagaimana cara untuk menghindari teriak?

  • Temukan ketenangan diri

Mama Papa perlu menyadari ketika emosi sedang meningkat dan Mama Papa mulai merasa ingin berteriak. Ketika itu terjadi, tenangkan diri atau keluar dari ruangan apabila diperlukan. Dengan menjauh dari zona konflik selama beberapa saat, Mama Papa mendapatkan kesempatan untuk kembali berpikir secara jernih dan bernapas dalam-dalam. Hal ini dapat membantu Mama Papa menjadi lebih tenang dan kembali ke ruangan dengan emosi yang lebih stabil
  • Bicara tentang emosi

Kemarahan adalah perasaan normal yang bisa dipelajari jika dikelola dengan benar. Dengan mengakui semua emosi, mulai dari kegembiraan, kesedihan, kemarahan, kecemburuan, ataupun frustasi, Mama Papa mengajarkan anak bahwa emosi adalah hal normal yang dimiliki setiap manusia. Bicarakan tentang perasaan Mama Papa dan ajak si kecil untuk melakukan hal yang sama. Hal Ini akan membantu mereka mengembangkan sikap hormat terhadap diri sendiri dan orang lain. Serta membentuk hubungan yang sehat antar keluarga
  • Atasi perilaku buruk dengan tenang, tapi tegas

Anak-anak terkadang berperilaku menggemaskan dan membuat Mama Papa gigit jari. Itu bagian dari pertumbuhan. Berbicaralah dengan mereka dengan cara tegas tanpa menurunkan martabat mereka. Jelaskan bahwa perilaku tertentu tidak dapat ditoleransi dan jangan diulang kembali. Hargailah ketika si kecil mulai mengakui kesalahannya. Tekankan bahwa perilaku saling menghormati dan problem solving merupakan kunci agar masalah lekas selesai
  •  Gunakan konsekuensi, tetapi jangan ancaman

Menurut Barbara Coloroso, penulis "Kids Are Worth It!," menggunakan ancaman dan hukuman menciptakan lebih banyak perasaan marah, dendam, dan konflik. Dalam jangka panjang, teriakan mencegah si kecil mengembangkan disiplin diri. Terlebih lagi, ancaman dan hukuman diikuti dengan menghina dan mempermalukan anak-anak, membuat mereka merasa tidak aman.  Berikan konsekuensi adil sebagai peringatan atas kesalahan yang dibuat si kecil. Seperti mengambil mainan setelah menjelaskan bahwa mainan itu untuk bermain, bukan untuk memukul. Hal ini dinilai dapat membantu anak-anak membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang
  • Berikan kebutuhan dasar

Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, seperti tidur dan makan, hal ini cenderung membuat anak-anak bahagia dan berperilaku lebih baik. Selain itu, membangun rutinitas akan membantu mereka menjadi tidak terlalu cemas dan mengurangi risiko bertingkah. Selain mengetahui cara mengelola emosi, Mama Papa juga dapat memberikan contoh sederhana sikap sopan santun kepada anak!   Sumber: Healthline Gambar: www.freepik.com

Yang Ada di Kiddo.id

Marketplace Aktivitas

premium

Konten Premium

milestone

Tes Gratis


Baca Juga