5 Tips Parenting Penting untuk Anak Usia 5 Tahun

Oleh Tanggal 23 Juli 2020

5 Tips Parenting Penting untuk Anak Usia 5 Tahun
Usia 5 tahun adalah usia yang istimewa. Anak akan mulai mengenal dunia luar selain keluarganya pada tahap ini. Beberapa orang mengatakan bahwa usia 5 tahun bisa dibilang sebagai tahapan yang paling sukar dihadapi. Ketika seorang anak berusia 5 tahun, Mama Papa perlu memiliki pemahaman yang tepat dalam mendidik anak. Untuk membantu Mama Papa, berikut tips parenting penting untuk anak usia 5 tahun.

Selalu beri contoh baik untuk anak 5 tahun

Merasa anak susah diatur meski sudah berulang kali Mama Papa beri nasihat? Mungkin penyebabnya justru dari Mama Papa sendiri. Anak mungkin menemukan tindakan Mama Papa kontradiktif dalam beberapa kesempatan. Ia mungkin bertanya-tanya, “Kemarin Mama bilang jangan buang sampah sembarangan, tapi kenapa hari ini Mama buang sampah sembarangan?” Akibatnya, si kecil merasa bingung dengan sikap manakah yang harus diambil. Untuk menghindari hal tersebut, Mama Papa sebaiknya selalu memberi contoh yang baik. Misalnya untuk contoh di atas, Mama Papa bisa langsung membuang sampah ke tong sampah. Mama Papa juga dapat memulai dari hal-hal kecil seperti mengucapkan “terima kasih” saat dibantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Ajarkan kemandirian 

Pada usia 5 tahun, anak akan mulai mengenal dunia luar. Ia mungkin akan mulai memiliki teman di sekolah atau harus keluar dari zona nyamannya di rumah. Untuk mempersiapkan anak menghadapi hal tersebut, Mama Papa sebaiknya mulai mengajarkan kemandirian. Mama Papa bisa mulai dengan mengajarinya memakai pakaian sendiri atau membereskan mainan setelah dipakai. Mungkin akan terasa sangat sulit bagi Mama Papa dan anak pada awalnya. Maka dari itu, ajarkan pelan-pelan agar anak bisa memahami konsep mandiri. Jangan lupa berikan pujian jika ia sudah mampu melakukan rutinitasnya secara mandiri.

Jangan mengancam anak

Anak-anak memiliki jiwa yang bebas. Mereka mungkin belum terlalu paham mana yang sebaiknya tidak dilakukan dan mana yang boleh dilakukan. Hasilnya, tingkah mereka bisa membuat Mama Papa geram dan gemas. Mengancam anak pun akhirnya dianggap sebagai solusi. Namun, sebenarnya mengancam anak bukanlah tindakan tepat. Ancaman hanya akan mempengaruhi kejiwaan si kecil ketimbang menjadi solusi. Anak yang sering diancam oleh orang tua atau lingkungan sekitarnya akan cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah. Mama Papa bisa mencoba menjelaskan tentang sebab-akibat sebagai alternatif dari mengancam. Misalnya saat si kecil tidak mau membereskan mainannya, beri pemahaman jika kebiasaan tersebut akan menyusahkannya. “Kemarin mainan kereta adek kok bisa hilang kenapa? Nah, biar keretanya nggak pergi lagi, nanti diberesin, ya.” Pendekatan ini terbukti jauh lebih efektif dibandingkan ancaman. Hal Ini dikarenakan si kecil sudah langsung mengetahui akibat dari tindakannya. Berbeda dengan ancaman yang menimbulkan perasaan takut pada anak.

Bantu ia mengeksplor bakatnya

Syaraf motorik anak semakin berkembang ketika ia memasuki usia 5 tahun. Secara keseluruhan, fisiknya semakin terbentuk. Di samping itu, anak juga mulai terbuka pada hal-hal baru yang menarik hatinya. Minat tersebut perlu diperhatikan karena berkaitan langsung dengan bakat anak. Coba perhatikan kira-kira apa saja yang menarik perhatian anak. Jika merasa kesulitan,Mama Papa dapat berkonsultasi dengan gurunya di sekolah. Kemudian, arahkan anak untuk menekuni minat tersebut. Lakukan evaluasi apakah minat tersebut memang bakat anak yang terpendam. Jika Mama Papa sudah yakin dengan bakat anak, mendaftarkannya pada program kursus bisa menjadi pilihan tepat. Namun, jika kursus dirasa akan membebani anak, Mama Papa bisa memberinya peralatan yang mendukung bakatnya. Misalnya pensil warna dan buku gambar untuk anak yang senang menggambar.

Latih emosi si kecil

Memasuki usia 5 tahun, anak akan semakin pintar mengekspresikan perasaannya. Namun, terkadang anak kesulitan memahami perasaannya sendiri. Ia mungkin masih kesulitan untuk membedakan mana perasaan marah dan kecewa atau mungkin sedih dengan kesal. Jika dibiarkan, anak akan kesulitan mengendalikan emosinya saat dewasa nanti. Melatih emosi si kecil bisa dimulai dengan memahami tentang emosinya. Mama Papa bisa mengamati saat terjadi kejadian tertentu. Contohnya saat anak kalah dalam perlombaan. Seperti apa emosi yang keluar? Tanggapi dengan empati agar anak tidak kesulitan untuk melupakannya. Ketika anak meluapkan emosi negatif seperti marah, jangan memberikan reaksi yang berlebihan. Lebih-lebih menanggapinya dengan memarahi si kecil balik. Hal tersebut justru akan membuat anak sulit mengungkapkan perasaannya. Sebaliknya, dekati anak, rangkul, dan lakukan kontak mata sambil memberi pengertian kepadanya. Tanyakan apa yang membuatnya marah dan coba tawarkan solusi. Dengan begitu, anak akan lebih memahami emosinya.  Mengamati tumbuh kembang si kecil merupakan hal yang menakjubkan sekaligus membuat Mama Papa waspada. Terlebih saat ia memasuki usia 5 tahun. Ia mulai berkenalan dengan dunia luar yang mungkin di luar kendali Mama Papa. Ketahui tips parenting lainnya yang dapat membantu Mama Papa untuk mendidik si kecil di laman Parenting Kiddo.id Gambar: Freepik

Yang Ada di Kiddo.id

Marketplace Aktivitas

premium

Konten Premium

milestone

Tes Gratis


Baca Juga