Belum lama ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), mengumumkan tes calistung dihapus pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SD/MI. Hal ini disebabkan oleh adanya miskonsepsi tentang calistung pada PAUD dan SD di masyarakat.
Sebagai awalan sekolah formal, SD/MI biasanya mengharuskan anak menjalani tes sebagai salah satu proses PPDB. Beberapa di antaranya yaitu tes membaca, menulis dan menghitung (calistung).
Seperti yang diketahui, tak sedikit yang menganggap kemampuan calistung sebagai satu-satunya bukti keberhasilan belajar dan dibangun secara instan. Padahal, hal ini tidak sesuai dengan metode pembelajaran PAUD maupun SD.
Baca juga: 9 Keterampilan Anak yang Harus Dimiliki Sebelum SD, Bukan Cuma Berhitung
Penghapusan tes calistung oleh Kemendikbudristek
ilustrasi anak belajar berhitung (freepik.com)
Dalam acara Peluncuran Merdeka Belajar episode 24: Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan, Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makariem, menjelaskan masih banyak satuan pendidikan yang salah dalam mengajari siswa calistung. Ada dua poin dalam miskonsepsi ini, yaitu
- Calistung bukanlah metode yang menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar.
- Satuan pendidikan PAUD bertugas mengajari anak calistung, bukan SD. Padahal hal ini berlaku sebaliknya.
Pengamat pendidikan sekaligus Ketua Yayasan Guru Belajar, Bukik Setiawan, mendukung kebijakan ini. Menurutnya, SD yang mengikutsertakan tes calistung sebagai salah satu syarat seleksi masuk menandakan satuan pendidikan yang enggan bersusah payah mendidik sehingga mengambil jalan pintas. Selain itu, tuntutan belajar calistung nyatanya tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak, lho.
Awalnya, anak yang menguasai calistung mungkin merasa lebih unggul dibandingkan teman-teman sebaya. Hanya saja, penguasaan calistung yang terburu-buru memberikan pengaruh buruk pada keterampilan sosial dan emosional yang jauh lebih penting.
Konsekuensinya, si Kecil kehilangan minat belajar dan menganggap aktivitas ini tidak menyenangkan. Bila mereka merasakan hal ini di masa golden age, akan sulit untuk memecahkan persepsi ini.
Selain menghapus tes calistung dalam proses PPDB, Kemendikbudristek juga berusaha memperkuat transisi dari PAUD ke SD menjadi lebih menyenangkan, seperti dengan menerapkan masa perkenalan bagi siswa baru selama dua minggu pertama, membangun kemampuan fondasi anak lewat pembelajaran yang aktif dan eksploratif, dan menghindari asesmen lisan dan tertulis di kelas untuk mengurangi potensi stress pada anak.
Baca juga: 7 Tips Memilih SD untuk Anak, Jangan Hanya Fokus pada Prestasi Akademis
Metode pembelajaran PAUD
ilustrasi metode pembelajaran bercerita di PAUD (freepik.com)
Dalam buku Format PAUD, Novan Ardy Wiyani dan Barnawi menyebutkan tiga metode pembelajaran PAUD. Metode pembelajaran merupakan pola umum kegiatan guru dan murid dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar.
Metode ini dibuat berdasarkan beberapa pertimbangan, seperti tujuan pembelajaran, peserta didik, lokasi, tema atau bahan ajar, dan pola kegiatan. Langsung saja, inilah tiga metode level pembelajaran PAUD yang penting Papa dan Mama ketahui.
1. Bermain
Salah satu metode pembelajaran PAUD yang paling digemari adalah bermain. Sejumlah psikolog dan pendidik menilai kegiatan ini sebagai pekerjaan umum anak sekaligus cermin pertumbuhan mereka.
Bukik menyebutkan bermain menarik minat anak untuk belajar karena kemauan dalam diri mereka. Aktivitas tidak dilakukan karena mengejar target, melainkan didasari minat atau kesukaan anak.
Selain itu, kegiatan bermain mampu mengembangkan potensi yang dimiliki si Kecil, seperti kecerdasan linguistik, logis-matematik, visual-spasial, interpersonal, intrapersonal, musikal, kinestetik, natural, dan spiritual. Aktivitas ini pun mendorong kemampuan komunikasi, menyalurkan energi, dan merangsang kreativitas.
2. Bercerita
Selanjutnya, ada metode bercerita yang memberikan pengalaman belajar bagi anak PAUD lewat penyampaian cerita secara lisan. Tak hanya membaca langsung dari buku, tenaga pendidik juga menggunakan ilustrasi dari buku bergambar, menggunakan papan flanel, boneka, bermain peran dalam cerita, atau bercerita dengan menggunakan jari-jari tangan.
Agar proses belajar berjalan efektif, Novan dan Barnawi menyarankan agar metode ini dilakukan dalam kelompok kecil untuk memudahkan guru mengontrol kegiatan yang berlangsung. Dengan bercerita, si Kecil mampu mengembangkan imajinasi, melatih daya konsentrasi, dan menambah perbendaharaan kata.
3. Bernyanyi
Metode pembelajaran anak PAUD yang terakhir adalah bernyanyi. Kegiatan ini menjadi media bagi tenaga pendidik untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai agama.
Tak hanya mengoptimalkan potensi otak kanan, kegiatan ini memudahkan anak menyimpan pesan-pesan yang diajarkan memori jangka panjang. Supaya tak kalah seru, tenaga pendidik bisa menggunakan musik pengiring dan menciptakan lagu baru dengan kalimat yang mudah dipahami oleh si Kecil.
Terlepas dari ketiga metode di atas, anak PAUD bisa mendapatkan materi pembelajaran lewat kegiatan karya wisata, demonstrasi, berdialog, memberikan tugas, atau quantum teaching.
Baca juga: 9 Cara Belajar Membaca Anak SD, Jangan Sering Dimarahi!
Kemampuan utama anak sebelum masuk SD
ilustrasi anak-anak bersosialisasi (freepik.com)
Lucia Royanto, dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI), mengungkapkan anak dalam masa transisi dari PAUD ke SD tak seharusnya menguasai calistung. Bagi psikolog anak ini, si Kecil perlu memiliki enam kemampuan berikut sebagai pondasi utama. Yuk, simak penjelasannya.
1. Kemampuan mengenal agama dan budi pekerti
Dalam masa transisi PAUD ke SD, agama dan budi pekerti merupakan aspek awal yang perlu dikuasai anak. Implementasi yang paling sederhana yaitu menyayangi diri sendiri.
2. Keterampilan sosial dan bahasa
Selanjutnya, anak juga perlu terampil dalam bidang sosial dan bahasa. Hal ini nantinya membantu mereka berinteraksi secara sehat, baik dengan guru, teman sebaya, dan orang lain.
3. Kematangan emosi
Bekal lain yang perlu dikuasai anak sebelum masuk SD adalah kematangan emosi. Lucia menambahkan keterampilan ini melatih si Kecil untuk mempertahankan atensi atau perhatian mereka sehingga bisa berkegiatan di lingkungan belajar
4. Keterampilan motorik
Dengan keterampilan motorik yang terlatih, anak dapat merawat diri sendiri dan mandiri di lingkungan sekolah. Seperti yang diketahui, kegiatan calistung membutuhkan gerak tangan dan koordinasi dengan mata. Bila rajin berlatih, anak akan mudah menguasai bidang ini di SD.
5. Kematangan kognitif
Kematangan kognitif yang perlu dikuasai anak pada masa transisi PAUD ke SD meliputi literasi dasar, numerasi dasar, dan pemahaman cara dunia bekerja. Alhasil, bisa dilihat pengadaan calistung pada tes masuk SD yang bukanlah pondasi pertama anak dalam belajar.
6. Kemampuan holistik
Seperti yang diketahui, setiap anak memiliki karakteristik berbeda dalam menjalani proses belajar. Meski begitu, mereka patut mendapatkan pembelajaran yang utuh (holistik). Kemampuan holistik si Kecil didasarkan pada aspek perkembangan dan profil pelajar pancasila.
Itulah penjelasan terkait mengapa tes calistung dihapus pada proses PPDB serta keterampilan yang perlu dikuasai si Kecil untuk masuk SD. Lingkungan belajar yang berkualitas dan nyaman diharapkan mampu membentuk fondasi karakter unggul untuk si Kecil sehingga mereka siap memasuki jenjang pendidikan berikutnya dengan semangat dan bahagia.
Untuk mengembangkan minat dan bakat anak, Papa dan Mama dapat mendaftarkan si Kecil ke Kiddo Club by Kiddo.id. Papa dan Mama bisa menemukan layanan kelas dan kursus berbagai bidang sesuai dengan bakat dan minat si Kecil di Kiddo.id. Tunggu apa lagi? Segera temukan layanan bimbel privat berkualitas secara praktis dan mudah bersama Kiddo.id
Baca juga: 21 Rekomendasi SD Swasta di Jakarta, Simak Rincian Biayanya

