Authoritarian Parenting, Pola Asuh yang Mengutamakan Kedisiplinan

Oleh Tanggal 3 Mei 2023 7 menit

Authoritarian Parenting, Pola Asuh yang Mengutamakan Kedisiplinan

Salah satu faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak adalah gaya pengasuhan anak atau parenting style. Dengan banyaknya jenis pola asuh yang ada, setiap orang tua berhak menentukan pilihan tipe pola asuh yang dikehendaki, misalnya pola asuh otoriter (authoritarian parenting).


Pola asuh otoriter kerap dijumpai di antara orang tua yang ingin mendidik anaknya lebih disiplin. Lantas, bagaimana penerapan authoritarian parenting dalam perkembangan anak? Yuk, simak informasinya di bawah ini. 


Baja juga: Nurturing Parenting, Pola Asuh yang Penuh Kasih dan Pengasuhan


Mengenal authoritarian parenting

Pola asuh otoriter alias authoritarian parenting identik dengan istilah ‘orang tua selalu benar’. Parenting style ini menekankan tuntutan yang tinggi dan umpan balik yang rendah dari orang tua. Dengan kata lain, orang tua menganggap anak harus menuruti aturan tanpa membantah. Dan, orang tua enggan mendengarkan pendapat anak.


Very Well Mind menjelaskan bahwa orang tua dengan gaya otoriter menaruh harapan yang sangat tinggi pada anak-anak, namun memberikan umpan balik dan pengasuhan yang kurang mendukung. Alih-alih menerapkan kedisiplinan, orang tua dengan gaya pengasuhan ini pun kerap menggunakan hukuman tanpa menjelaskan alasan di balik peraturan mereka.


Tak hanya penerapan hukuman pada kesalahan, gaya pengasuhan anak ini juga mengedepankan umpan balik yang cenderung bersifat negatif. Singkatnya, bentakan dan hukuman fisik umum menjadi makanan sehari-hari anak dengan pola asuh otoriter.


Baca juga: 5 Kesalahan Pola Asuh yang Menghambat Pertumbuhan Anak, Yuk Hindari!


Ciri-ciri authoritarian parenting

ilustrasi ibu memarahi anak (freepik.com)


Selain merawat dan mendidik anak, orang tua juga berperan mensosialisasikan anak pada nilai dan harapan budaya mereka. Hanya saja, cara ini dapat dicapai secara bervariasi berdasarkan seberapa kuat kontrol orang tua yang coba diberikan pada anak.


Dalam praktiknya, authoritarian parenting dianggap sebagai gaya pengasuhan yang paling mengendalikan. Alih-alih mengajarkan dan menghargai pengendalian diri anak, orang tua yang otoriter cenderung mementingkan ketaatan anak pada otoritas. Karenanya, menyampaikan umpan balik berupa hukuman atas perbuatan lebih diutamakan dibandingkan mengapresiasi perilaku positif. Untuk lebih lengkapnya, inilah ciri dan contoh authoritarian parenting yang penting diketahui Papa dan Mama.  


1. Kurang memberi pengasuhan

Karena fokus pada kedisiplinan anak, authoritarian parenting kerap mengesampingkan kehangatan atau pengasuhan dalam tumbuh kembang anak. Harapannya, anak dapat dilihat tanpa harus didengar. 


Selain itu, orang tua cenderung bersifat dingin, menyendiri, dan kasar. Di beberapa kesempatan, mereka justru kerap mengomel atau meneriaki anak-anak ketimbang memberikan dukungan atau pujian. Alhasil, kesenangan anak-anak dinomor duakan. 


2. Mempermalukan

Untuk memaksa anak-anak mematuhi aturan, tak jarang orang tua otoriter memanfaatkan rasa malu sebagai taktik. “Mengapa kamu nggak bisa melakukannya dengan benar?”, “Mengapa kamu melakukannya?”, atau “Berapa kali harus Mama bilang untuk melakukannya dengan benar?” merupakan pertanyaan yang kerap diajukan.


Bukannya membantu membangun kepercayaan diri anak, orang tua dengan gaya pengasuhan otoriter mengandalkan rasa malu untuk memotivasi anak berperilaku lebih baik.


3. Terlalu menuntut, tapi kurang responsif

Salah satu ciri utama authoritarian parenting adalah bersifat menuntut, tapi tidak responsif. Orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan ini mengatur hampir semua aspek kehidupan dan perilaku di rumah, baik saat di rumah maupun di depan umum.


Banyak aturan tak tertulis yang kadang tak diketahui anak. Meski begitu, mereka diharapkan mengetahui aturan ini ada dan tetap diikuti. Orang tua tak segan memberikan hukuman pada anak yang menolak mematuhi aturan ini.


4. Tak sabar dengan perilaku buruk

Dengan pola asuh otoriter, orang tua berharap anak tidak terlibat dalam masalah. Pasalnya, mereka kurang sabar untuk menjelaskan anak-anak untuk menghindari perilaku tertentu. Terlebih orang tua dengan gaya pengasuhan ini cenderung menghabiskan sedikit energi untuk meluangkan waktu bersama dan membicarakan perasaan. 


5. Memberi hukuman tanpa penjelasan

Ciri gaya pengasuhan otoriter lainnya adalah memberi hukuman tanpa penjelasan. Orang tua dengan gaya pengasuhan otoriter tak segan menggunakan hukuman fisik yang melibatkan pukulan, bukannya umpan balik positif. Reaksi ini seringkali dilakukan dengan cepat dan kasar ketika aturan dilanggar.


6. Membatasi pilihan bagi anak

Pengasuhan dengan gaya otoriter membatasi pilihan bagi anak, termasuk kesempatan untuk negosiasi. Bahkan, orang tua seringkali tak membiarkan anak membuat pilihannya sendiri. Dengan begitu, orang tua bertindak sebagai pengambil keputusan anak, alih-alih mengarahkan mereka. 


7. Menolak negosiasi

Ciri utama authoritarian parenting lainnya adalah tidak mempercayai area abu-abu. Orang tua membagi situasi sebagai hitam dan putih sehingga tidak menyisakan ruang untuk kompromi. Imbasnya, anak tidak dapat menyuarakan pendapat saat harus menetapkan aturan atau membuat keputusan.


8. Minim rasa percaya

Tak hanya menuntut kedisiplinan, orang tua otoriter juga tidak memberi kepercayaan pada anak untuk membuat pilihannya sendiri. Tak ingin menghadapi konsekuensi alami atas pilihan anak, orang tua yang otoriter membatasi kebebasan anak dan mengawasi mereka untuk memastikan tidak terjadi kesalahan. 


Baca juga: Orang Tua Wajib Tahu, Ini Penyebab Anak Nakal dan Susah Diatur


Faktor penyebab authoritarian parenting  

ilustrasi memarahi anak (freepik.com)


Dalam penerapannya, gaya pengasuhan otoriter seringkali tidak dilakukan orang tua dengan sengaja. Ada sejumlah faktor yang berkontribusi dalam penggunaan pola asuh ini.


1. Pengalaman pengasuhan otoriter

Pengasuhan otoriter umumnya bermula dari cara orang tua dulunya dibesarkan dalam budaya otoriter. Pengalaman ini dapat membekas hingga dewasa sehingga tak jarang mereka menerapkan pola asuh yang sama untuk mendidik anak.


2. Kurang ramah tamah

Orang tua otoriter dikenal mempunyai skor keramahtamahan yang rendah. Alhasil, mereka kurang berempati dan sering menunjukkan sifat bermusuhan. Hal ini tentunya memengaruhi hubungan dengan anak yang seringkali lebih sulit.


3. Lebih banyak neurotisme

Skor neurotisme yang tinggi menjadi salah satu aspek penyebab authoritarian parenting. Adapun neurotisme merupakan dimensi kepribadian yang melibatkan kestabilan emosi. Hal ini ditandai dengan kecenderungan mengalami kecemasan, keraguan, depresi, dan perasaan negatif lainnya.


Baca juga: 5 Cara Mudah Mengajarkan Anak Tentang Disiplin Diri


Dampak authoritarian parenting pada anak

ilustrasi anak menyendiri (freepik.com)


Setiap gaya pengasuhan tentunya memiliki dampak tersendiri bagi anak, baik dari segi keterampilan sosial dan prestasi akademik. Anak yang diasuh dengan pola authoritarian parenting dapat merasakan efek berikut ini.


1. Menjadi pemalu dan penakut di sekitar orang lain.

2. Merasa rendah diri.

3. Mudah menyesuaikan diri, tapi juga mengalami kecemasan, bahkan depresi.

4. Mengaitkan kepatuhan dan kesuksesan dengan cinta.

5. Minim perilaku prososial.

6. Sulit berbaur dalam situasi sosial akibat kurang kompetensi sosial.

7. Kerap berperilaku agresif pada orang lain.

8. Memiliki banyak gejala negatif, seperti hiperaktif dan masalah tingkah laku.

9. Sulit mengendalikan diri karena kurang mampu membuat pilihan.


Anak yang tumbuh dalam pengasuhan otoriter umumnya sangat baik dalam mengikuti aturan, namun kurang disiplin diri. Karena tidak didorong untuk bereksplorasi dan bersikap mandiri, mereka tidak belajar menetapkan batasan dan standar pribadi. Pada akhirnya, sikap kurang disiplin ini mampu menimbulkan masalah saat orang tua tidak ada untuk memantau perilaku anak.


Secara garis besar, authoritarian parenting ditandai dengan ekspektasi yang tinggi dan minim umpan balik bagi anak. Jangan sampai pola asuh yang keliru berdampak buruk bagi anak saat mereka dewasa nanti.


Melatih kedisiplinan anak perlu dimulai sejak dini. Agar pembelajaran semakin menarik, Papa dan Mama dapat memanfaatkan aktivitas anak yang disediakan oleh Kiddo.id. Ada juga kelas sensorik yang baik untuk tumbuh kembang anak. Yuk, latih kedisiplinan dan kepercayaan diri si kecil bersama Kiddo.id.

Yang Ada di Kiddo.id

Marketplace Aktivitas

premium

Konten Premium

milestone

Tes Gratis


Baca Juga