Pernahkah Papa dan Mama mencoba eksperimen STEAM untuk anak di rumah? Konsep pembelajaran yang cukup populer di era yang serba canggih ini tak hanya diterapkan di sekolah, tapi juga bisa dilakukan di rumah, lho.
Bila pembelajaran STEAM biasanya tertuang dalam kurikulum International Baccalaureate (IB) di sekolah, salah satu contoh pengaplikasian yang bisa dijumpai di rumah yaitu kegiatan memasak. Ketika menggunakan spatula dengan bahan berbeda, seperti kayu, plastik, dan besi, si Kecil berkesempatan mempelajari jenis material yang dapat menghantarkan panas.
Menggabungkan sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika, metode STEAM menuntun si Kecil dalam berdiskusi dan memecahkan masalah. Secara umum, konsep utama yang diusung yaitu praktik sama pentingnya dengan teori. Artinya, anak harus menggunakan otak dan tangan secara bersamaan untuk belajar sekaligus menghubungkan teori dan praktik secara efisien.
Baca juga: 5 Kerajinan Bahan Lunak untuk Aktivitas Si Kecil, Ampuh Hilangkan Bosan
Manfaat STEAM untuk anak

ilustrasi anak bermain (freepik.com)
Diusung National Science Foundation (NSF) dari Amerika Serikat, edukasi STEAM tidak mengenal batasan usia. Meski begitu, Papa dan Mama perlu memberikan eksperimen STEAM yang tepat sesuai kelompok usia si Kecil.
Di negara-negara maju, pendekatan pembelajaran STEAM sudah sangat umum bagi anak-anak. Manfaat yang diberikannya pun cukup beragam, seperti
- Menginspirasi anak untuk mewujudkan ide baru,
- Mengajarkan pemecahan masalah melalui berbagai disiplin ilmu,
- Melatih kemampuan berpikir kritis tentang ilmu pengetahuan,
- Meningkatkan level kreativitas,
- Memfasilitasi anak untuk berpikir holistik,
- Menghubungkan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lain,
- Membangkitkan minat anak untuk memahami impian yang ingin mereka kejar di masa depan.
Mendukung program ini, Dr. Tarek Razik, mantan Head of School JIS, mengungkapkan metode STEAM melatih kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah secara objektif dan efektif, adaptasi, dan komunikasi anak. Selain itu, pendekatan pembelajaran terpadu ini juga memperkuat pengembangan kompetensi 5C yaitu creativity (kreativitas), critical thinking (berpikir kritis), communication (komunikasi), collaboration (kolaborasi), dan character (karakter).
Baca juga: 3 Ide Kreasi Kerajinan Tangan dari Kardus Bekas, Mudah Dibuat!
Eksperimen STEAM untuk Anak

ilustrasi anak bermain (freepik.com)
Ketika menghabiskan akhir pekan di rumah saja, Papa dan Mama dapat mengajak si Kecil mencoba pembelajaran STEAM yang seru dan menarik. Eksperimen STEAM untuk anak ini pun hanya membutuhkan material dan bahan yang bisa ditemukan di sekitar. Nah, berikut rekomendasi aktivitasnya.
1. Eksperimen 'paperclip chain'
Eksperimen STEAM untuk anak yang bisa dicoba selanjutnya yaitu eksperimen paperclip chain. Kali ini, si Kecil akan belajar teori magnet yang ada di ilmu Fisika.
Seperti yang diketahui, magnet dapat menarik benda-benda bersifat feromagnetik atau dapat ditarik dengan magnet. Percobaan ini membuktikan magnet asli dapat menginduksi energi magnetik pada paperclip. Dengan begitu, paperclip bisa saling menariknya dan terus menempel meski sambungan dengan magnet asli diputus.
Bahan:
- 1 buah tempelan magnet kulkas
- 5 buah paperclip
Cara:
- Tempelkan magnet pada salah satu ujung paperclip.
- Selanjutnya, tempelkan ujung paperclip yang tidak melekat pada magnet ke paperclip lainnya.
- Usai seluruh paperclip tersambung, copot magnet.
- Nah, paperclip masih tersambung meski tidak tersambung magnet.
2. Bangunan dari cup plastik
Sudah menjadi sifat natural anak usia dini untuk menyukai benda berjumlah banyak dan berwarna-warni. Papa dan Mama bisa memanfaatkan hal ini dengan menciptakan eksperimen bersama si Kecil, misalnya membuat bangunan setinggi-tingginya dari cup plastik.
Secara umum, kegiatan ini melatih kemampuan teknik dan matematika anak. Tak hanya itu, eksperimen ini juga menjelaskan konsep gaya gravitasi pada mereka di mana semakin tinggi bangunan, maka semakin sulit merangkai gelas akibat tketidakseimbangan.
Bahan:
- Cup plastik
- Penggaris
- Stopwatch
Cara:
- Berikan contoh pada anak untuk membuat bangunan dari gelas.
- Minta si Kecil membuat bangunan mereka sendiri dari cup.
- Berikan waktu untuk menyusun bangunan.
- Ukur tinggi bangunan yang diciptakan.
3. Eksperimen 'walking water'
Eksperimen sains, khususnya Fisika, yang bisa dibuat oleh anak selanjutnya adalah eksperimen ‘walking water’. Sesuai namanya, eksperimen ini menunjukkan air yang nampak ‘berjalan’ akibat proses kapilaritas.
Lalu, bagaimana hal ini bisa terjadi? Air menyerap melalui pori-pori kapiler yang ada di tisu. Karena kuatnya gaya adhesi antara air dan kertas tisu dibandingkan gaya kohesif, air naik dan melewati kertas tisu, lalu masuk ke gelas yang kosong.
Bahan:
- 7 buah gelas
- Air
- Pewarna makanan
- Tisu kertas
Cara:
- Atur 7 buah gelas dalam posisi sejajar.
- Tuangkan air hingga setengah volume pada gelas pertama, ketiga, dan kelima.
- Tambahkan pewarna makanan di masing-masing gelas yang terisi air.
- Aduk sampai pewarna larut dalam air.
- Lipat tisu kertas dan masukkan ujung tisu ke masing-masing gelas secara menyambung.
- Selanjutnya, biarkan selama beberapa jam.
- Yeay! Air di gelas berpindah.
4. Bioskop kardus
Apakah Papa dan Mama tertarik mengajak si Kecil melakukan eksperimen STEAM sekaligus memanfaatkan barang bekas? Nah, ada eksperimen bioskop kardus yang bisa dijadikan pilihan, nih.
Eksperimen yang satu ini memberi kesempatan pada anak untuk belajar sains dan teknologi. Melalui aktivitas ini, mereka belajar cara memvisualisasikan benda yang ditangkap dengan posisi terbalik lewat kaca pembesar (lup).
Bahan:
- Kardus sepatu
- Selotip hitam
- Gunting
- Cutter
- Kaca pembesar (lup)
- Ponsel
Cara:
- Lubangi kardus seukuran kaca pembesar.
- Posisikan kaca pembesar dengan posisi gagang ke atas.
- Rekatkan kaca pembesar pada lubang di kardus dengan selotip hitam.
- Letakkan ponsel di kardus dengan posisi layar terbalik, menghadap lup.
- Matikan lampu ruangan, kemudian mainkan video pada ponsel.
- Viola! bioskop mini sudah jadi.
5. Eksperimen gunung meletus
Pastinya Papa dan Mama tak asing dengan eksperimen gunung meletus. Berbeda dengan eksperimen lainnya, eksperimen ini memerlukan kehati-hatian sebab dapat membasahi lantai bila wadah tidak diletakkan pada tempat yang tepat.
Menerapkan sains di bidang Kimia, eksperimen gunung meletus menampilkan reaksi kimia antara cuka dan soda kue yang menghasilkan gas karbondioksida. Karbondioksida yang dihasilkan sama seperti gas pada minuman bersoda. Nah, apa jadinya kalau si Kecil mengocok minuman bersoda? Gas akan keluar seperti gunung meletus.
Bahan:
- 10 ml sabun cuci piring cair
- 100 ml air dingin
- 400 ml cuka makanan
- Pewarna makanan
- Setengah gelas soda kue dicampur setengah gelas air
- 2 buah botol soda kosong ukuran 1,5 liter
Cara:
- Campurkan cuka makanan, air, dan sabun.
- Tambahkan 2 tetes pewarna makanan ke dalam botol kosong.
- Tuangkan larutan soda kue tadi ke dalam botol kosong.
- Ajak si Kecil menjauh dari eksperimen.
- Pop! cairan meluap ke atas.
Itulah lima eksperimen STEAM untuk anak yang menyenangkan sekaligus edukatif. Ingat, ketika membuat eksperimen ini, si Kecil tetap perlu didampingi Papa dan Mama, ya.
Untuk mengembangkan minat dan bakat anak, Papa dan Mama dapat mendaftarkan si Kecil ke Kiddo Club by Kiddo.id. Papa dan Mama bisa menemukan layanan kelas dan kursus berbagai bidang sesuai dengan bakat dan minat si Kecil di Kiddo.id. Tunggu apa lagi? Segera temukan layanan bimbel privat berkualitas secara praktis dan mudah bersama Kiddo.id
Baca juga: 3 Alat Musik dari Barang Bekas untuk Hiburan Si Kecil, Hasilnya Menarik!

