Aktivitas Anak

Permainan Tradisional Membentuk Karakter Positif Pada Anak

Oleh Naila Humaira   |   

Permainan tradisional merupakan salah satu permainan yang mudah dimainkan di rumah dengan menerapkan sistem kebersamaan. Permainan ini menjadi salah satu alternatif mengisi waktu luang di rumah. 

Permainan tradisional merupakan salah satu aset budaya atau kearifan lokal yang harus kita jaga di tengah tren game online yang berkembang saat ini. Berbagai macam permainan tradisional misalnya gobak sodor, layang-layang, ular naga, kotak pos, balap karung, petak umpet, congklak, egrang, lompat tali, ABC lima dasar, lempar batu, engklek, jamuran, gundu atau kelereng, benteng-bentengan, gasinan, kasti, masak-masakan, donal bebek, polisi-polisian, kucing dan tikus, ketapel, lari tempurung, mendorong ban, dan sebagainya. Permainan ini dianggap sebagai permainan yang sederhana, tidak mengeluarkan biaya besar, dan tentunya betah dimainkan bersama selama berjam-jam. Mengenalkan aneka permainan tradisional kepada Si Kecil dapat membantu Mama Papa membentuk Si Kecil memiliki karakter positif dan memiliki pandangan hidup atau falsafah yang bermakna.

Lalu, jenis permainan tradisional apa yang dapat dimainkan di rumah dan menanamkan nilai karakter?

1. Congklak

Permainan tradisional congklak atau dakon merupakan permainan tradisional Indonesia yang populer. Permainan ini hanya bisa dilakukan oleh dua orang. Aturan permainan ini tidak susah. Alat yang dibutuhkan adalah papan congklak berbentuk lonjong terbuat dari plastik, kayu, atau tanah yang berisi lubang kecil dengan jumlah 12 atau 14 lubang serta terdapat dua lubang besar di ujung kanan dan kiri papan congklak serta menyiapkan biji congklak.

Mama Papa dapat menggunakan biji congklak dari bahan plastik, batuan kecil, atau biji-bijian. Satu orang pemain dapat menggunakan 6  atau 7 lubang kecil pada papan congklak. Lubang-lubang tersebut diisi dengan biji congklak. Pemain akan mengambil biji congklak dari satu lubang dan membagikannya satu per satu ke lubang lainnya secara berurutan. Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah biji terbanyak yang dikumpulkan dalam lubang besar.

Menurut studi literatur menyatakan permainan dakon atau congklak mengajarkan Si Kecil agar memiliki nilai karakter seperti kecermatan dalam menghitung, ketelitian dan kejujuran. Setiap pemain dilatih untuk memiliki kecerdasan karena untuk memenangkan permainan ini membutuhkan strategi yang tepat yakni mengumpulkan biji congklak paling banyak. Nilai karakter inilah yang belakangan ini diabaikan dalam permainan modern.

2. Lompat Tali

Permainan tradisional lompat tali atau dikenal dengan permainan karet merupakan salah satu permainan sederhana yang sangat digemari oleh anak-anak Indonesia. Permainan tradisional lompat tali dapat dimainkan minimal tiga orang, yakni dua orang sebagai pemegang tali, dan satu orang sebagai pelompat tali.

Mama Papa bisa menggunakan tali atau karet gelang yang dianyam secara memanjang. Ketika sedang membuat anyaman karet gelang, ajaklah Si Kecil untuk ikut menganyam karet gelang karena hal tersebut dapat membantu kreativitas Si Kecil ketika melihat cara menganyam karet untuk digunakan dalam bermain lompat tali. Setelah selesai, Mama Papa bisa bermain bersama Si Kecil di tempat luas dan terbuka seperti di halaman rumah.

Permainan lompat tali dilakukan dengan cara dua orang pemegang tali mengatur tinggi talinya setinggi lutut, kemudian pelompat tali harus berhasil melompati tali tersebut. Jika pelompat tali berhasil, maka tinggi tali akan dinaikkan menjadi seperut, sedada, telinga, kepala dan terakhir setinggi tangan diangkat di atas kepala. Jika gagal, maka pemain harus bergantian menjadi pemegang tali.

Menurut studi literatur menyebutkan nilai karakter yang diajarkan kepada Si Kecil dalam permainan ini  adalah nilai kerja keras, ketangkasan, kecermatan, dan sportifitas. Masing-masing nilai akan dijelaskan secara singkat di bawah ini.

  • Nilai kerja keras dapat diketahui dari semangat pemain yang berusaha agar dapat melompat tali dengan berbagai macam ketinggian,
  • Nilai ketangkasan dan kecermatan dapat diketahui dari usaha pemain untuk memperkirakan tingginya tali dengan lompatan yang akan dilakukannya. Ketangkasan dan kecermatan dalam bermain dapat dimiliki apabila si pemain sering bermain lompat tali atau berlatih melompati tali, dan
  • Nilai sportifitas dapat dilihat dari sikap pemain yang tidak berbuat curang dan bersedia menggantikan pemegang tali jika melanggar aturan yang ditetapkan dalam permainan.

3. Petak Umpet

Permainan tradisional lainnya yang tidak kalah menyenangkan adalah permainan petak umpet. Permainan ini tidak pernah terkikis oleh waktu karena cukup banyak dikenal dan sudah diwarisi secara turun temurun oleh berbagai generasi anak di Indonesia. Prinsip permainan petak umpet adalah menemukan orang yang bersembunyi. Pemain yang bersembunyi lalu pertama kali ditemukan, maka ia akan bergantian menjadi si pencari atau sering disebut dengan penjaga pos. Bila penjaga pos tidak dapat menemukan tempat persembunyian, maka ia dinyatakan kalah.

Cara bermain petak umpet yakni dimainkan minimal dua orang dan akan lebih seru apabila semakin banyak pemain yang ikut, maka area persembunyiannya semakin besar.  Mama Papa dapat melakukannya yaitu salah satu pemain bertugas menutup mata dan berhitung sedangkan pemain lainnya mencari tempat bersembunyi sampai si pencari selesai berhitung. Mama Papa dapat mengajak Si Kecil bermain petak umpet dengan memanfaatkan beberapa area di rumah sebagai tempat persembunyian.

Menurut jurnal ZAHRA: Research And Tought Elementary School Of Islam Journal menjelaskan bahwa permainan petak umpet mengajari Si Kecil untuk mengasah kreatifitas dan kepekaan pemainnya. Nilai karakter yang ditanamkan kepada Si Kecil melalui permainan ini adalah Si Kecil dapat bersikap jujur seperti ketika menjaga pos, pemain harus jujur untuk tidak membuka mata saat pemain lainnya sedang berlari mencari tempat persembunyian. Selain bersikap jujur, sportifitas turut ditanamkan dalam permainan ini seperti ketika si pencari dapat menemukan tempat persembunyian lawan, maka ia harus bersedia untuk menjaga pos. Adapun studi literatur lainnya menyatakan karakter yang diajarkan kepada Si Kecil dalam permainan ini adalah mengasah emosi Si Kecil sehingga muncul toleransi dan empati terhadap orang lain sehingga Si Kecil merasa nyaman dan terbiasa dalam kelompok.

Baca juga : Permainan Tradisional Untuk Melatih Konsentrasi Anak

 

4. Kelereng

Permainan tradisional kelereng ini dikenal di beberapa daerah dengan sebutan gundu, neker, gotri, atau guli. Permainan ini biasanya dilakukan oleh Si Kecil laki-laki yang umumnya membutuhkan keterampilan membidik dan menembak kelereng ke lawan main. Permainan tradisional kelereng dapat dimainkan dengan banyak orang, semakin banyak orang yang ikut bermain maka permainan tersebut semakin seru. Mama Papa dapat membeli kelereng di toko mainan anak. Membelikan kelereng unik untuk Si Kecil dapat menambah koleksi permainannya dan tidak akan mengeluarkan banyak biaya.

Cara memainkan permainan kelereng cukup sederhana yakni mengumpulkan kelereng yang jumlahnya sudah disepakati ke dalam lingkaran. Kemudian, pemain hanya menyentil kelereng milik sendiri dari balik garis yang jaraknya cukup jauh dari lingkaran. Pemain yang jarak kelerengnya jauh dari garis lingkaran berhak memulai lebih dulu. Pemenang ditentukan dari pemainnya yang mengumpulkan kelereng paling banyak.

Mama Papa dapat mengajak Si Kecil bermain kelereng di rumah sehingga membuat Si Kecil betah berkonsentrasi bermain kelereng selama berjam-jam. Menurut literatur Jurnal Kependidikan menjelaskan bahwa nilai yang terkandung dalam permainan ini adalah Si Kecil memiliki karakter kerja keras yang terlihat dari sikapnya untuk memenangkan permainan. Karakter ini dapat dimiliki Si Kecil bila dilatih secara terus-menerus. Selain itu, Si Kecil juga memiliki karakter kreatif yang terlihat dari strategi menyentil kelereng searah dengan sasaran hingga mengumpulkan kelereng dalam jumlah banyak.

5. Bola Bekel

Jenis permainan tradisional yang terakhir ini dapat dimainkan dengan mudah di rumah. Permainan tradisional bola bekel dapat dimainkan minimal dua orang. Mama Papa dapat bermain bola bekel dengan menyediakan dua alat saja, yakni bola kecil seperti bola kastil dan biji bekel sebanyak 8 buah.

Cara memainkannya adalah Keluarga Kiddo harus menentukan urutan pemain dengan sistem “suit” atau “kertas gunting batu”. Setelah itu, pemain mengenggam seluruh biji bekel dan bola bekel di salah satu tangan. Lalu, bola dilempar ke atas, dan pada saat yang bersamaan biji bekel disebar. Saat bola memantul dari lantai, pemain harus segera mengambil biji bekel. Pemenang permainan ini adalah pemain yang berhasil melewati tahapan permainan dengan membolak-balik biji bekel.

Menurut literatur Jurnal Kependidikan menjelaskan permainan ini mengajari Si Kecil memiliki karakter kerja keras dan kreatif. Karakter kerja keras dapat dilihat dari upaya Si Kecil dengan gesit mengubah posisi biji bekel saat bola bekel dilempar ke atas. Sedangkan karakter kreatif dapat terlihat ketika Si Kecil berupaya menyusun strategi untuk membalikkan biji bekel saat bola dilempar ke atas dengan waktu yang terbatas.

Secara umum, pesan moral yang terdapat dalam setiap jenis permainan tradisional adalah terwujudnya interaksi yang nyata antara Mama Papa dengan Si Kecil. Selain itu, dapat membantu Si Kecil memiliki fisik yang sehat, adanya interaksi sosial antara Si Kecil dengan teman sebayanya, dan menanamkan karakter positif seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.  Agar Si Kecil tetap dapat memiliki aktivitas yang berkualitas setiap hari, Mama Papa bisa mengunduh pilihan lembar aktivitas dari Kiddo.id secara gratis. Selamat bermain bersama!

Seberapa suka dengan artikel ini?