Parenting

Hukum Puasa Bagi Ibu Hamil atau Menyusui di Bulan Ramadan

Oleh Naila Humaira   |   

Aktivitas menyusui anak oleh seorang ibu diperintahkan dalam Alquran akan mendapat pahala

(Image credit : freepik.com)

Bagaimana pandangan Islam tentang hukum puasa bagi ibu hamil atau menyusui di bulan Ramadan? Islam memberikan keringanan dan jawaban jelas terkait pandangannya tentang ibu menyusui.

Aktivitas menyusui air susu Ibu (ASI) eksklusif pada bulan Ramadan menjadi tantangan tersendiri untuk Mama yang baru memulai menyusui. Perintah untuk menyusui Si Kecil secara tegas diserukan dalam AL-Qur’an pada surah Al-Baqarah ayat 233 yang artinya,

 “Dan bagi para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”

Tahukah Mama bahwa Rasulullah SAW menyampaikan pesan yang amat berharga tentang pentingnya menyusui. Pesan tersebut adalah bagi seorang ibu yang menyusui anaknya, Allah Subhana Wa Ta’Ala menjanjikannya jauh dari siksaan api neraka serta akan diberi pahala.

Lalu bagaimana dengan pandangan islam tentang hukum puasa bagi ibu hamil atau menyusui di bulan Ramadan? Untuk menjawab pertanyaan ini, Islam telah memberikan keringanan dan menunjukkan pengertian kepada seorang wanita hamil dan menyusui. Menurut Islam, salah satu orang yang tidak wajib berpuasa adalah ibu hamil dan menyusui. Kekhawatiran ibu hamil dan menyusui terbagi atas dua, dan hal ini dijelaskan dalam Islam didukung dengan sebuah hadist.

1.Khawatir Akan Keselamatan Dirinya

Apabila Mama sedang hamil atau menyusui dan memiliki kekhawatiran  akan keselamatan dirinya, Islam membolehkan Mama untuk berbuka dan Mama wajib mengqadha puasanya. Hal ini tertuang dalam sebuah hadist.

“Sesungguhnya Allah Subhana Wa Ta’Ala melepaskan kewajiban puasa serta meringkas shalat kepada musafir, dan kewajiban puasa kepada ibu hamil dan menyusui.” (Tirmidzi, 3/175)

2. Khawatir Akan Kesehatan Anaknya

Apabila Mama sedang hamil atau menyusui dan memiliki kekhawatiran akan kesehatan anaknya, maka Mama wajib mengqadha puasanya dan membayar fidyah. Hal ini tertuang dalam sebuah hadist.

Ibnu Abbas berkata “Ibu menyusui dan wanita hamil, apabila takut akan (kesehatan) anak mereka,  hendaknya berbuka lalu (membayar fidyah dengan) memberi makan.” (Abu Dawud, 2/2318).

 

Setelah mengetahui kekhawatiran Mama, Mama mungkin masih belum yakin antara membayar qadha atau fidyah. Qadha dan fidyah memiliki pengertian yang berbeda namun tetap ditujukan kepada Mama yang sedang hamil atau akan menyusui di bulan Ramadan tahun ini. Berikut Kiddo akan membahas mengenai Qadha dan Fidyah. Semoga Mama dapat tercerahkan dan tidak lagi merasa was-was untuk menyusui Si Kecil saat bulan Ramadan.

Tentang Qadha

Qadha puasa menurut Islam diartikan sebagai membayar puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadan dengan berpuasa pada hari-hari lain, sebanyak dengan jumlah puasa yang ia tinggalkan. Qadha puasa dapat dilakukan oleh orang yang meninggalkan puasa dengan alasan yang dibenarkan secara syariat, seperti orang yang sakit, orang yang sedang safar atau melakukan perjalanan, haid atau nifas, dan sebagainya dan ia mampu berpuasa di lain waktu.

Jika belum sempat mengqadha puasa Ramadan tahun lalu, maka kita wajib melaksanakan Qadha setelah Ramadan. Namun, jika Mama meninggalkannya karena rasa malas, maka wajib untuk melaksanakan Qadha serta membayar fidyah setiap harinya.

Tentang Fidyah

Fidyah puasa menurut Islam diartikan sebagai membayar puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadan dengan memberi makan kepada seorang miskin sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan, dengan kadar 2,5 kg berupa bahan makanan pokok seperti beras dan lainnya. Fidyah puasa dilakukan oleh seorang yang meninggalkan puasa dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat seperti orang yang sakit, orang yang melakukan safar atau melakukan perjalanan, haid atau nifas, dan sebagainya tetapi tidak mampu untuk berpuasa di lain waktu.

Hukum Islam tentang fidyah menyebutkan bahwa fidyah tidak boleh diberikan kepada orang yang menjadi tanggungan (nafkah) orang yang mengeluarkan fidyah.

Setelah Mama mengetahui pengertian dari qadha dan fidyah, tentu masih ada pertanyaan terkait dengan persoalan membayar qadha atau fidyah. Berikut Kiddo mencoba mengulas pertanyaan di bawah ini.

Bagaimana Membayar Fidyah dengan Uang?

Jawabannya adalah fidyah tidak boleh diberikan dalam bentuk uang, harus dibayarkan dalam bentuk makanan. Hal ini dikarenakan Allah Subhana Wa Ta’Ala menyebut perkara fidyah dengan lafal memberi makan atau minum, maka karena itu wajib membayar fidyah dengan makanan. Hal ini tertuang dalam firman Allah Subhana Wa Ta’Ala dalam surah Al-Baqarah ayat 184 yang artinya:

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah (2):184)

Adapun menurut ulama apabila tidak memungkinkan bagi pemberi fidyah untuk memberikan makanan langsung kepada fakir miskin, maka ia boleh menitipkan uang kepada pihak amal sebagai pihak ketiga untuk dikelola sehingga fakir miskin menerimanya dalam bentuk makanan.

Bagaimana Jika Terlambat Mengqadha, Hingga Masuk Ramadan Berikutnya?

Berkaitan pertanyaan diatas, hal ini juga turut menjadi perhatian Islam. Menurut Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq menyatakan,

“Jika terlambatnya karena udzur yang sah menurut syariat, maka dia hanya harus mengqadha puasanya setelah Ramadan dan tidak harus membayar fidyah. Jika terlambatnya tidak karena udzur, maka dia wajib mengqadha puasanya setelah Ramadan dan mengeluarkan fidyah setiap harinya.

Bagaimana Jika Meninggal Dunia Sebelum Melakukan Qadha Puasa?

Apabila seorang ibu meninggal dunia sebelum melaksanakan qadha, maka seorang walinya harus menunaikan kewajibannya. Hal ini tertuang dalam sabda Rasulullah SAW “Barang siapa yang meninggal dan baginya (kewajiban) berpuasa, maka walinya berpuasa untuknya.” (Shahih Bukhari, 2/1851)

Ada sebuah riwayat bahwa seseorang datang kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, ibuku meningggal sementara dia memiliki tanggungan puasa sebulan, apakah aku harus mengqadhakannya?” Nabi menjawab, “Ya. Utang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.” (Shahih Bukhari, 2/1852)

Baca juga : 10 Teknik Awal Mengajar Anak Mengaji Iqro dengan Benar

 

Ayo Mama tetap bersemangat menyusui Si Kecil sembari menikmati momen ibadah puasa di bulan Ramadan tahun ini ya. Agar Mama dan Si Kecil tetap proaktif selama berkegiatan di bulan Ramadan, Mama bisa banget cek promo di Kiddo.id lagi bagi-bagi berkah Ramadan Ma, Pa. Semoga artikel ini dapat menjawab rasa penasaran Mama Papa tentang membayar qadha dan fidyah.

Selamat menunggu waktu berbuka puasa Keluarga Kiddo!

 

Referensi :

Hatta A, Tamam AM, Alim AS.2013.  Bimbingan Islam untuk Hidup Muslim : Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya dari Lahir sampai Mati berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Jakarta (ID): Maghfirah Pustaka

 

Seberapa suka dengan artikel ini?

Aktivitas akan datang