Tanamkan Sikap Berani Speak-Up Pada Anak dengan 5 Cara Ini
Oleh Immanuela Harlita Josephine Tanggal 20 Januari 2021
Tumbuh kembang anak sangat berpengaruh pada gaya pola asuh yang orang tua terapkan. Anak-anak cenderung lebih mudah mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan ketimbang orang dewasa. Anak-anak akan dengan polos dan jujur mengungkapkan apa yang mereka inginkan. Mereka juga akan lebih mudah mengikuti gaya seseorang yang mereka lihat. Karena itulah, pola asuh pada anak sangat bergantung dari orang tua mereka. Salah satu hal yang mejadi perhatian khusus dalam tumbuh kembang anak adalah bagaimana mereka berani untuk mengungkapkan pendapat alias speak-up. Ini adalah perhatian umum bagi orang tua yang memiliki anak kecil.
Speak-up bukanlah tugas yang mudah. Sementara itu, beberapa anak yang mulai mengawali masa-masa sekolah mereka akan memasuki stuasi dan kondisi yang lebih berbeda lagi. Tampaknya hal ini bagi sebagian anak menjadi sebuah permasalahan tersendiri terkait dengan kemauan mereka untuk berbicara. Ada anak yang semakin besar semakin fasih dalam mengungkapkan pendapat atau speak-up. Namun, tak sedikit pula anak yang semakin bertumbuh malah semakin takut atau mengurungkan niat mereka untuk memilih tidak menyuarakan pendapat karena berbagai faktor yang melatarbelakangi mereka.
Faktor-faktor tersebut bisa jadi karena anak yang sudah bisa merasakan apa itu perasaan malu dalam speak-up, pola asuh orang tua yang terlalu banyak memberikan larangan, atau bahkan pengalaman bersama teman-teman sebaya di sekolah. Banyak faktor yang memengaruhi seorang anak untuk tidak berani speak-up. Ini bisa menjadi tugas yang sulit bagi orang tua. Mengajarkan keterampilan tentang ketegasan dan berani mengungkapkan pendapat dengan benar membutuhkan kesabaran dan latihan agar anak menjadi terbiasa. Ada beberapa hal yang dapat Mama Papa lakukan di rumah untuk membantu si kecil berani speak-up.
Penuhi Hak dan Kewajiban Anak
Sebagai orang tua, kita menghabiskan banyak waktu untuk mengajar anak-anak bagaimana harus bertanggung jawab. Tetapkan aturan dan batasan kepada anak dalam pola asuh yang baik. Anak-anak akan merespons dengan baik terhadap apa yang mereka lihat. Bantu anak-anak untuk berani mengatakan tidak, setuju, dan mengarahkan mereka pada keinginan yang penuh dengan tanggung jawab serta hal yang memang sudah menjadi hak mereka.
Mengajar keterampilan asertif terkadang memang sulit dan penting untuk membantu anak menyeimbangkan kebutuhannya sendiri dengan kebutuhan orang lain. Bagian dari komunikasi yang tegas adalah mampu mendengarkan orang lain sehingga dapat menemukan jalan tengahnya. Pastikan bahwa Mama Papa sudah memenuhi hak-hak yang harus didapakan mereka sebagai anak. Ini akan menjadi langkah yang bagus untuk mengajarkan mereka tentang arti dari bertanggung jawab sehingga mereka akan lebih berani untuk speak-up disaat apa yang semestinya mereka dapatkan tidak sejalan dengan apa yang mereka sudah pertanggungjawabkan.
Ajarkan Anak dalam Membuat Statemen “Saya”
Terdapat rasa kepuasan tersendiri apabila bisa menyalahkan seseorang atas sesuatu saat kita sedang merasakan stress atau marah. Bahkan mungkin terasa menyenangkan untuk bisa menyerang dengan pernyataan agresif secara verbal. Hal ini tentu tidak baik apabila terus dibiarkan dan sudah mampu dilakukan oleh anak-anak. Pasalnya, anak-anak yang mulai bisa menyalahkan orang lain atas perasaan mereka akan kehilangan kekuatan pribadi dalam diri mereka. Ada perbedaan yang signifikan antara mengatakan “Saya merasa marah saat Anda mengabaikan Saya” dengan “Anda membuat Saya marah saat Anda mengabaikan Saya.” Ketika anak-anak belajar mengenali perbedaan dan mengambil kepemilikan atas perasaan mereka, itu membuat mereka akan memegang kendali.
Berlatihlah menggunakan pernyataan “saya” di rumah. Gunakan pernyataan ini pada saat Mama Papa sedang kesal atau marah karena hal tersebut dapat menjadi contoh cara yang tenang untuk menegaskan kebutuhan Mama Papa sebagai orang tua. Ketika anak-anak melihat bahwa orang tua mereka menggunakan pernyataan “saya” akan membantu orang tua tetap tenang dan fokus sambil menegaskan perasaan dan kebutuhan Mama Papa. Anak-anak akan belajar bahwa mereka dapat melakukan hal yang sama dengan teman sebaya. Mereka belajar untuk mengubah perasaan kesal atau emosi tetap terkendali dengan menjadi tenang dan fokus pada solusi saat mereka sedang speak-up.
Sebagai orang tua, penting untung selalu mengajari anak-anak dalam hal mendengarkan. Mama Papa perlu membiasakan si kecil bahwa penting melakukan kontak mata saat berbicara untuk menunjukkan perhatian kepada lawan bicara. Orang tua dapat mengajarkan anak-anak untuk mampu mengehentikan dahulu pekerjaan yang sedang anak-anak lakukan saat ada orang yang mengajak mereka berbicara dan menjaga gerak tubuh mereka tetap diam untuk menunjukkan keterampilan mendengarkan yang baik.
Tunjukkan pada anak bagaimana cara berkomunikasi dengan baik kepada orang lain. Berikan pula anak-anak suatu tugas untuk mereka kerjakan. Saat tugas tersebut dikerjakan, percayalah pada hasil kerja mereka dan jangan terlalu banyak memberikan interupsi atas hal-hal yang sedang anak kerjakan. Jika tugas yang Mama Papa berikan kepada si kecil kurang maksimal saat mereka kerjakan, tetap berikan apresiasi kepada mereka dan jangan terlalu mendominasi untuk menyalahkan hasil kerja mereka karena itu semua adalah sebuah proses. Dengan demikian, anak akan lebih berani dalam speak-up.
Ajarkan Cara Menolak dengan Baik
Sebuah penolakan atau kata “tidak” adalah wajar untuk dialami oleh setiap orang. Mama Papa harus memberikan arahan pada si kecil tentang menerima adanya penolakan bahwa hal itu bukanlah suatu hal yang memalukan. Terkadang, banyak anak yang enggan untuk speak-up karena takut bahwa gagasan atau pemikiran yang mereka ungkapkan akan ditolak. Kebiasaan ini harus dilatih sedari dini mungkin agar anak tidak mudah merasa kecewa atas respons yang mereka dapatkan dari orang lain. Berikan mereka contoh yang baik dalam bersikap ketika pemikiran mereka tidak disetujui. Begitu pun sebaliknya, saat mereka mendengar sesuatu yang tidak sejalan atas yang orang lain katakan, mereka juga harus mampu bersikap baik dan sopan untuk menolak atau mengemukakan ketidaksetujuan tersebut. Hal tersebut dapat tercipta apabila Mama Papa membiasakan gaya komunikasi seperti demikian pada saat di rumah, dimulai dari hal-hal kecil seperti memilih menu makanan sehari-hari dan memilih tontonan saat family time di akhir pekan.
Berikan Pujian dan Apresiasi Anak
Ada reaksi yang signifikan terkait pemberian pujian dan apresiasi pada anak. Beberapa anak akan merasa dimanja apabila terlalu sering menerima banyak pujian. Pujian yang tepat untuk diberikan pada anak akan membangun karakter diri lebih banyak lagi. Pujian bisa menghasilkan banyak kebaikan untuk mengingatkan mereka tentang bekerja menuju tujuan yang baik dan tepat.
Hal penting yang harus diperhatikan ketika orang tua memberikan pujian pada anak adalah pujian tersebut harus memiliki makna. Misalnya, memberikan pujian karena anak sudah berhasil menyelesaikan PR mereka sendiri. Pujian itu menjadi jelas maknanya karena anak tahu bahwa menyelesaikan PR secara mandiri adalah hal yang baik sehingga mereka patut mendapat apresiasi. Pujian ini kemudian akan memotivasi diri mereka untuk melakukan atau mengerjakan pekerjaan rumah lebih baik lagi. Berikan pujian yang spesifik. Cobalah untuk tidak terlalu memikirkan seberapa sering Mama Papa melontarkan pujian pada anak, tetapi fokuslah pada makna dari setiap pujian yang Mama Papa berikan pada mereka.
Ketika orang tua memuji karakter anak kepada orang dewasa lainnya yang masih berada dalam jangkauan pendengaran anak, mereka pasti akan memperhatikan obrolan tersebut. Ini bukanlah perkara tentang membual terkait prestasi yang dicapai oleh anak kepada orang tua lain, tetapi ini justru menjadi momen berbagi yang akan meningkatkan rasa percaya diri anak lebih lagi. Hal tersebut dapat mendukung anak untuk lebih berani speak-up karena mereka merasa dihargai keberadaannya.
Lima cara di atas dapat Mama Papa coba terapkan kepada si kecil untuk menumbuhkan rasa berani mereka dalam mengemukakan perasaan maupun pendapat atas diri mereka sendiri. Hal ini baik untuk terus dibangun sebagai karakter diri yang baik agar anak mampu untuk speak-up secara bertanggung jawab dan tahu tentang apa yang mereka inginkan. Karakter ini kemudian akan menjadi salah satu faktor pembentuk diri sebagai pemimpin-pemimpin yang berkarakter dan bijaksana. Temukan berbagai Info&Tips seputar pola asuh anak lainnya hanya di Kiddo.id. Ada banyak aktivitas menarik yang edukatif pula bagi si kecil di rumah lho. Selamat belajar dan berkarya, Keluarga Kiddo!
Gambar: Freepik