Penyebab Depresi Anak yang Orang Tua Harus Ketahui!
Oleh Immanuela Harlita Josephine Tanggal 20 Januari 2021
Meskipun kebanyakan orang menganggap depresi sebagai penyakit orang dewasa, anak-anak dan remaja juga dapat mengalaminya lho. Sayangnya, banyak anak dengan depresi tidak diobati karena orang tua tidak menyadari bahwa anak mereka tengah mengalami depresi. Penting bagi orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya untuk mempelajari tentang depresi yang dialami anak-anak. Ketahui beberapa penyebab depresi yang dialami oleh anak berikut ini.
Apa Saja Gejalanya?
Depresi yang muncul pada anak seringkali berbeda gejalanya dengan yang dialami oleh orang dewasa. Orang dewasa yang sedang mengalami depresi cenderung akan terlihat sedih, sedangkan depresi yang dialami oleh anak-anak mungkin terlihat lebih mudah tersinggung dan marah. Mama Papa mungkin akan melihat perubahan perilaku yang dialami oleh si kecil, seperti membangkang atau penurunan nilai akademis di sekolah.
Tanda-tanda depresi akan ditunjukkan melalui sikap mereka yang cepat marah, sikap menantang, nilai sekolah yang menurun, keluhan fisik seperti sakit perut dan sakit kepala. Anak yang tengah merasakan depresi mungkin bersikeras bahwa mereka baik-baik saja atau mereka mungkin akan menyangkal bahwa mereka sedang mengalami masalah. Banyak orang tua menganggap iritabilitas anak mereka sebagai fase yang normal dalam sebuah perkembangan. Sifat cepat marah yang berlangsung pada anak lebih dari dua minggu bisa jadi merupakan gejala bahwa mereka mengalami depresi.
Apa Saja Penyebabnya?
Siapapun busa mengalami depresi dan hal tersebut bukanlah suatu tanda kelemahan. Tidak salah apabila anak tengah mengalami masa depresi jika tidak terus berlarut-larut. Meskipun peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, seperti perceraian, dapat menyebabkan depresi, itu hanyalah sebagian kecil dari faktor pendukung depresi. Terdapat banyak faktor lainnya juga seperti genetika yang juga berperan dalam perkembangan depresi anak.
Ada sejumlah faktor berbeda yang dapat menyebabkan depresi di masa kanak-kanak. Beberapa faktor risiko potensial akan depresi tersebut meliputi:
Kimia Otak: Ketidakseimbangan neurotransmitter dan hormon tertentu mungkin berperan dalam kerja orang yang dapat memengaruhi suasana hati dan emosi serta meningkatkan risiko mengalami depresi.
Riwayat Keluarga: Anak-anak dengan anggota keluarga yang juga mengalami gangguan mood memiliki risiko lebih besar untuk mengalami gejala gangguan depresi.
Stress atau Trauma: Perubahan mendadak seperti pindah rumah atau perceraian, atau peristiwa traumatis seperti pelecehan atau penyerangan juga dapat menyebabkan perasaan depresi.
Faktor Lingkungan: Lingkungan rumah yang stres, kacau, atau tidak stabil juga dapat membuat anak lebih mungkin mengalami depresi. Penolakan dan intimidasi di sekolah juga bisa menjadi faktor penyebabnya.
Jika Mama Papa mencurigai si kecil mengalami depresi, dokter anak adalah tempat yang baik untuk mulai mencari tahu apakah anak sedang berada dalam fase tersebut di hidupnya. Jadwalkan pertemuan dengan dokter dan konsultasikan semua masalah atau gejala-gejala yang terjadi pada anak. Untuk dapat didiagnosis mengalami depresi, anak-anak harus menunjukkan lima gejala atau lebih, setidaknya dalam dua minggu. Gejala-gejala ini dapat mencakup:
Suasana hati yang tertekan atau mudah tersinggung.
Kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas yang dinikmati sebelumnya.
Insomnia pada anak atau tidur yang berlebihan.
Penurunan nafsu makan atau berat badan yang signifikan.
Kurang energi atau mudah lelah.
Gelisah atau penurunan gerakan fisik.
Kesulitan untuk berkonsentrasi atau membuat keputusan.
Perasaan bersalah atau tidak berharga.
Selain gejala di atas, anak juga dapat menunjukkan peningkatan keluhan fisik, kemarahan, hingga perilaku buruk di sekolah. Dokter anak dapat mengesampingkan potensi dari masalah kesehatan fisik yang mungkin berkontribusi pada gejala-gejala yang Mama Papa lihat. Dokter akan fokus untuk melakukan evaluasi kesehatan mental pada anak dengan melakukan sesi pendekatan dan Tanya jawab langsung bersama anak. Meskipun tidak ada tes khusus untuk mendeteksi depresi seseorang, dokter akan menggunakan penilaian psikologis untuk mengevaluasi lebih lanjut jenis dan tingkat keparahan atas gejala tersebut.
Anak-anak mungkin akan menolak untuk membicarakan soal kesehatan mental. Anak-anak dengan usia yang lebih kecil sering kali tidak memiliki kemampuan bahasa untuk mengungkapkan suasana hati mereka. Mereka mungkin tidak dapat menggambarkan bagaimana perasaan mereka atau apa yang mereka alami. Anak-anak dengan usia yang lebih besar berpotensi memiliki pemahaman yang lebih baik tentang mengenali emosi tetapi mungkin merasa malu untuk mengungkapkannya atau merasa khawatir jika mengatakannya.
Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui kondisi psikologis anak. Kesehatan mental anak dipengaruhi oleh peran penting orang tua dalam mendidik, membesarkan, dan merawat mereka. Depresi yang dialami anak mungkin tidak dapat dihindari tapi bisa diatasi dengan melakukan langkah-langkah yang tepat dan cepat dalam penanganannya sebelum kondisi menjadi lebih parah. Kiddo.id hadir untuk memberikan Mama Papa berbagai Info&Tips soal mengatasi berbagai permasalahan yang dialami anak serta pola asuh anak lainnya. Ada banyak aktivitas edukatif dan kursus online dengan harga terjangkau juga lho buat si kecil di rumah. Selamat mencoba, Keluarga Kiddo!
Gambar: Freepik