7 Dampak Mengancam Anak, Jangan Jadikan Kebiasaan

Oleh Tanggal 3 Mei 2023 7 menit

7 Dampak Mengancam Anak, Jangan Jadikan Kebiasaan

“Kalau makanannya tidak dihabisin, nanti nggak akan dibeliin mainan.” Pernahkah Papa dan Mama mengucapkan kalimat tadi? Papa dan Mama perlu hati-hati karena tindakan tersebut termasuk mengancam. Dampak mengancam anak cukup berpengaruh pada tumbuh kembang si kecil, lho.


Melansir Exploring Your Mind, mengancam anak telah diwariskan sejak dulu kala. Hal ini bermula dari pengalaman orang tua yang dulunya didik dengan ancaman waktu mereka kecil atau remaja. Karena ditujukan untuk mengintimidasi anak, jelas bahwa ancaman tak boleh digunakan Papa dan Mama sebagai cara mendidik si kecil.


Meski bukan termasuk pola pengasuhan yang ideal, mengancam anak efektif mendapatkan hasil yang diinginkan orang tua. Karenanya, tak sedikit orang tua yang mencoba mengendalikan dan membuat anak menurut lewat ancaman. Hanya saja, ancaman bersifat ampuh sesaat sehingga tidak efektif untuk jangka panjang. Namun, efeknya untuk si kecil tidak bisa diabaikan.


Baca juga: 5 Kesalahan Pola Asuh yang Menghambat Pertumbuhan Anak, Yuk Hindari!


Dampak mengancam anak

ilustrasi anak kurang percaya diri (freepik.com)


Semakin sering orang tua mengancam anak, semakin buruk dampaknya bagi anak. Melansir Exploring Your Mind, inilah dampak mengancam anak yang penting diketahui Papa dan Mama.


1. Menimbulkan rasa takut

Saat periode emas usia 0-5 tahun, rasa ingin tahu balita tentunya sangat besar. Namun, melalui ancaman, orang tua mendorong munculnya rasa takut dalam diri anak. Berbeda dengan rasa takut pada umumnya, kekhawatiran yang dipicu ancaman bukanlah sesuatu yang dibenarkan. Alih-alih melatih anak patuh, memberikan ancaman hanya akan menimbulkan rasa takut dan merenggangkan hubungan dengan orang tua.


2. Mengurangi rasa percaya diri

Menurut Adele Faber, ancaman merupakan bentuk rasa tidak percaya orang tua pada kemampuan anak untuk mengatur hidupnya sehingga dibutuhkan ancaman sebagai pemberi kepastian. Hanya saja, ancaman dapat dinilai sebagai kekangan. Tindakan ini pada akhirnya mengurangi rasa percaya anak untuk mencoba hal baru. Imbasnya, si kecil dibiarkan tumbuh kurang pengalaman dalam lingkup sosial.


3. Memengaruhi harga diri

Salah satu dampak mengancam anak yang utama adalah merusak harga diri anak. Meski awalnya berhasil dilakukan, ancaman yang kerap dilakukan orang tua justru mengubah anak menjadi lebih agresif. Selanjutnya, mereka akan sulit mematuhi perintah dan aturan Papa dan Mama.


4. Sulit mengambil keputusan

Larangan dan ancaman yang orang tua menghadirkan rasa takut pada anak untuk mengambil keputusan sendiri. Bukannya melindungi, ancaman hanya akan mengekang anak dalam berkembang dan keluar dari zona nyaman mereka.


5. Meningkatkan stres

Tak hanya orang dewasa, anak ternyata juga bisa mengalami stres bila merasa tertekan. Banyak pemicu stres bagi si kecil, salah satunya adalah ancaman yang didapatkan terus menerus. Selain itu, ancaman juga menyebabkan perubahan karakter dan kepribadian pada anak.


6. Tumbuh tidak bertanggung jawab

Tak hanya meningkatkan stres, dampak mengancam anak juga termasuk membuat anak tumbuh tak bertanggung jawab. Padahal, rasa tanggung jawab perlu diperkenalkan sejak dini agar anak mandiri.

Anak yang mendapat ancaman cenderung menghindari hukuman dan menjauh dari musuh. Dengan begitu, anak akan mengandalkan peran orang tua atau orang dewasa lainnya ketika mereka terlibat masalah.  


7. Menjadi lebih agresif

Anak yang sering mendapatkan ancaman akan menormalisasi tindakan ini. Padahal, tak jarang ancaman melibatkan kekerasan dan agresivitas. Bila sudah begitu, anak sulit tumbuh dan berhubungan baik dengan orang di sekitar lantaran lebih agresif dibandingkan anak lainnya.


Baca juga: Cara Mendisiplinkan Si Kecil dengan Teknik "The 5 C’s "


Tanda dan gejala kekerasan psikis

ilustrasi anak mengalami mimpi buruk (freepik.com)


Mengancam anak merupakan salah satu bentuk kekerasan pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengelompokkan kekerasan anak menjadi tiga jenis, yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kekerasan emosional.


Tak hanya kekerasan emosional, ancaman juga dapat melibatkan kekerasan fisik. Tumbuh dalam pengasuhan yang mengutamakan ancaman dapat memengaruhi gejala psikis anak. IDAI menyebutkan tanda dan gejala kekerasan psikis pada anak, misalnya:


1. Perubahan rasa percaya diri yang tiba-tiba

2. Sakit kepala atau nyeri perut tanpa penyebab medis yang jelas

3. Ketakutan abnormal, misalnya mimpi buruk

4. Kecenderungan melarikan diri

5. Kegagalan di sekolah, seperti prestasi menurun, sering bolos, dan sulit berkonsentrasi


Baca juga: 7 Strategi Penerapan Timeout yang Efektif Bagi Anak


Cara meminimalisir dampak mengancam anak

ilustrasi orang tua dan anak (freepik.com)


Ancaman yang digunakan orang tua umumnya dimaksudkan untuk mendisiplinkan anak tanpa menyakiti mereka. Hanya saja, tindakan ini menimbulkan konsekuensi buruk pada anak.


American Academy of Pediatrics merekomendasi alternatif lain yang tidak melibatkan kekerasan dalam dalam mendisiplinkan anak. Pasalnya, kekerasan berupa ancaman hanya akan mengundang perilaku agresif pada anak. Berikut tiga rekomendasi cara mendisiplinkan anak yang lebih efektif.


1. Beri pilihan yang mudah dipahami

Menawarkan opsi yang mudah dipahami untuk anak memberi mereka kesempatan untuk mengambil keputusan sesuai keinginan mereka. Sebagai contoh, Papa dan Mama bisa memberi pilihan agar si kecil membereskan mainan supaya bisa mendengarkan dongeng sebelum tidur atau membereskannya nanti dan tidak akan dibacakan dongeng.


2. Sampaikan batasan yang tegas

Setelah memberi pilihan, Papa dan Mama perlu menyampaikan batasan yang tegas. Misalnya, “Sepuluh menit lagi Mama akan berangkat. Kalau kamu masih main dan nggak cepetan mandi, kamu tinggal di rumah aja sama Ayah.”


3. Tetapkan aturan yang jelas

Dalam mendisiplinkan anak, Papa dan Mama perlu menyampaikan aturan yang jelas sejak awal, lengkap dengan konsekuensinya. Dengan begitu, anak mengetahui apa saja tugas dan kewajibannya tanpa perlu diancam. Bila anak lalai, Papa dan Mama dapat mengingatkan mereka tentang peraturan yang disepakati bersama.


Tak semua pola asuh yang diterapkan orang tua baik untuk anak, misalnya mengancam anak. Dampak mengancam anak pun menyebabkan mereka menjadi rendah diri dan penakut, atau sebaliknya malah memberontak. Bila anak terbiasa dengan ancaman, tentunya diperlukan ancaman yang lebih keras dibandingkan biasanya sehingga tidak efektif dalam mendidik anak.


Melatih kedisiplinan anak bisa dilakukan tanpa melibatkan ancaman. Agar pembelajaran semakin menarik, Papa dan Mama dapat memanfaatkan aktivitas anak yang disediakan oleh Kiddo.id. Ada juga kelas sensorik yang baik untuk tumbuh kembang anak. Yuk, latih kedisiplinan dan kepercayaan diri si kecil bersama Kiddo.id.

 

Yang Ada di Kiddo.id

Marketplace Aktivitas

premium

Konten Premium

milestone

Tes Gratis


Baca Juga