Parenting

Saat Anak Melihat Orang Tua Bertengkar…

Oleh Kiddo.id   |   

Dalam sebuah hubungan pernikahan, pertengkaran demi pertengkaran adalah hal yang wajar.Wajar bagi kedua pasangan, tapi tidak bagi anak-anak. Jika Mama Papa merasa sedih saat bertengkar, ketahuilah bahwa anak-anak jauh merasa lebih sedih ketika melihat kedua orang tua bertengkar.

Loh, memangnya anak-anak sudah mengerti? Anak-anak yang masih sangat kecil mungkin tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun anak-anak mampu merasakan emosi Mama Papa dengan baik. Seorang psikolog dari psikolog Universitas Notre Dame bernama E. Mark Cumming, telah mempelajari permasalahan ini selama 20 tahun. Menurutnya, anak-anak memperhatikan emosi kedua orang tua mereka dan berpikir “Apakah aku aman berada di sini?”

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi berusia 6 bulan sudah memahami emosi orang tuanya melalui raut wajah. KetikaMama Papa sedang sedih, bayi akan mengerti melalui raut muka yang tidak biasa. Penelitian lain menunjukkan bahwaanak-anak yang tumbuh dengan konflik kedua orang tua, biasanya kurang bisa menyesuaikan diri di sekolah (TK). Anak-anak ini cenderung merasa tidak aman saat berada di sekolah. Perasaan ini pun berlangsung hingga anak memasuki SMP.

Apa Saja yang Terjadi dengan Anak-anak Ini?

Terdapat penelitian pada tahun 2002 oleh Rena Repetti, Shelley E, dan Teresa E. Seeman dari Universitas California, LA, yang menyinggung masalah ini. Penelitian tersebut menunjukan bahwa anak-anak yang hidup dalam lingkungan keluarga tinggi konflik, cenderung memiliki masalah dalam kesehatan fisik, masalah emosional dan masalah sosial lainnya.

Tak hanya itu, ketika anak-anak ini tumbuh dewasa, mereka cenderung mengalami depresi, reaktivitas emosional, ketergantungan zat adiktif tertentu, merasa kesepian, dan memiliki masalah dengan keintiman.

Cumming menambahkan bahwa, anak-anak yang dibesarkan di keluarga tinggi konflik cenderung merasa putus asa, memiliki tingkat kecemasan tinggi, dan mudah marah. Beberapa anak lain juga mengalami gangguan tidur, sakit kepala, sakit perut. Tak jarang anak-anak tersebut mengalami stres yang dapat mengganggu kemampuan akademik di sekolah.

Seorang Antropolog Mark Flinn dan Barry England menemukan fakta bahwa hormon kortisol (hormon pengatur stres) pada anak-anak yang tinggal dengan kedua orang tua sering bertengkar meningkat tajam. Anak-anak ini juga sering sakit dan terlihat kelelahan karena kurang tidur. Sedangkan hormon kortisol pada anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang cenderung menurun.

Baca juga:  Mama Papa Berantem? Apa Kabar Si Kecil?

 

Hal Apa Saja yang Mengganggu Anak Saat Melihat Orang Tua Bertengkar?

Ketika melihat kedua orang tua bertengkar, banyak hal yang dilihat dan dirasakan oleh anak-anak. Menurut Cumming, hal-hal yang dapat mengganggu psikis anak terdiri dari:

  • Kekerasan fisik seperti memukul, mendorong, atau menampar.
  • Kata-kata kasar saat memanggil nama pasangan atau ketika mengatakan suatu penghinaan
  • Salah satu pasangan melakukan walk-out, yaitu berjalan meninggalkan pasangan lain
  • Saling menarik diri dari pasangan.

Ada kalanya sebagai orang tua justru memutuskan untuk diam dan tidak bertengkar di depan anak. Banyak orang tua yang menganggap hal tersebut lebih baik daripada membiarkan anak melihat pertengkaran. Namun, emosi yang masih ada di antara Mama Papa tetap dirasakan oleh anak. Cumming mengatakan bahwa hal ini tidak mengurangi efek negatif yang dirasakan anak

Anak-anak adalah analis konflik yang paling canggih. Kemampuan anak mendeteksi emosi jauh lebih baik dari pada yang diperkirakan oleh orang tua. Bahkan, anak-anak mampu mendeteksi saat Mama dan Papa sedang berpura-pura tidak bertengkar.

Baca Juga: 5 Hal Yang Dirasakan Anak Saat Melihat Orangtua Bertengkar

 

Apa Yang Harus Dilakukan?

Bertengkarlah dengan Baik!

Adakah cara bertengkar dengan baik? Ya, bertengkar dengan baik adalah pertengkaran yang membawa dampak positif bagi anak. Dampak positif dari pertengkaran terjadi jika kedua orang tua bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Hal ini menjadikan si kecil belajar bahwa kedua orang tuanya memang saling mengasihi. Anak juga belajar bahwa setiap konflik, pasti ada solusinya. Hal ini dikarenakan ia mencontoh kedua orang tuanya

Jangan Biarkan Anak Menjadi Wasit

Ketika anak mengatakan“Mama jangan marah-marah sama Ayah ya” ini adalah lampu merah bagi Mama Papa. Segera hentikan pertengkaran. Tenti ini menandakan bahwa anak tidak ingin memilih untuk mendukung salah satu pihak.  Anak hanya ingin Mama Papa berhenti bertengkar, dan melihat Mama Papa rukun.

Beri Tahu Ketika Mama Papa Memang sedang Bertengkar

Seorang direktur dari Institusi Parenting di New York, bernama Richard Gallagher, Ph.D mengatakan bahwa anak-anak perlu mengetahui ketika Mama Papa bertengkar. Anak perlu memahami bahwa pasangan yang bahagia dan saling mencintai pernah bertengkar atau memiliki perbedaan pendapat.

Jadi, jangan berpura-pura tidak terjadi apa-apa di depan anak. Jelaskan pada anak bahwa konflik kecil sehari-hari itu wajar. Hal ini bukan berarti Mama Papa saling membenci. Tujuan menjelaskan pada anak adalah agar anak paham bahwa perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan. Hal ini tidak berarti bahwa Mama Papa harus menjelaskan pertengkaran tersebut secara detail.

Bertengkarlah dengan Mengedepankan Empati

Meskipun anak melihat Mama Papa sedang bertengkar, pastikan juga ia melihat bahwa Mama Papa tetap saling menyayangi. Alangkah lebih baik lagi, ketika anak paham bahwa Mama Papa bertengkar karena ingin yang terbaik untuk keluarga. Mama Papa dapat mengatakan pada pasangan bahwa Mama Papa saling mengerti perasaan masing-masing dan memahami kesulitan yang sedang dihadapi pasangan.

Peka Terhadap Tanda Stres Anak

Tentu saja anak tidak nyaman saat melihat kedua orang tuanya bertengkar. Oleh karena itu Mama papa perlu tahu tanda anak stres dan harus segera mengakhiri pertengkaran yang terjadi. Beberapa anak menunjukkan stres dengan menutup telinga atau mata. Mereka mungkin akan langsung ketakutan dan berlari ke ruangan lain saat melihat orang tua bertengkar. Anak lain mungkin menunjukkan sikap membela salah satu orang tua. Tanda stres lainnya bisa berupa sering sakit, seperti sakit kepala atau sakit perut.

Katakan Segala Sesuatu dengan Kebaikan

Apa pun yang perlu dikatakan saat bertengkar, katakan dengan kebaikan. Jangan menyumpahi atau memanggil nama pasangan. Apalagi memanggil dengan panggilan kasar atau penghinaan. Katakan segala sesuatu dengan kata-kata positif. Selain itu, jangan pernah bertengkar melibatkan pukulan atau tamparan. Apalagi saat Mama Papa bertengkar di depan anak.

Apa pun pemicu dari pertengkaran memang menimbulkan kesedihan. Tak hanya bagi Mama Papa, namun juga bagi anak. Terdapat beberapa hal fatal yang tidak boleh Mama Papa lakukan saat bertengkar dengan pasangan. Salah satunya adalah jangan posting status di media sosial. Coba pahami perasaan anak saat Mama Papa sedang bertengkar. Jangan sampai pertengkaran yang terjadi terus menerus membawa dampak buruk bagi perkembangan jiwa dan kesehatan anak.

Sumber: School of Parenting

Seberapa suka dengan artikel ini?

Berikan Komentar