Parenting

Toxic Parents: Apa dan Bagaimana Bahayanya?

Oleh Kiddo.id   |   

Anak-anak berhak lahir dalam keluarga yang bahagia dengan orang tua yang mencintai anak seutuhnya. Akan tetapi, pada kenyataannya, banyak sekali anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang destruktif, kasar, dan mampu meracuni psikologis anaknya. Dalam istilah psikologi, orang tua seperti ini sering disebut sebagai Toxic Parents.

Istilah Toxic Parents tidak hanya berlaku untuk orang tua yang memiliki perilaku buruk, seperti melakukan kekerasan fisik atau verbal. Toxic Parents juga berlaku untuk orang tua yang melakukan tindakan-tindakan yang bisa meracuni keadaan psikologis anak. Ini jelas lebih berbahaya karena jenis toxic parents yang kedua ini tidak terlihat.

Orang tua bisa saja terlihat normal. Mereka memenuhi kebutuhan anak, tidak menyakiti fisik, dan menginginkan yang terbaik untuk anak. Akan tetapi, ada beberapa perilaku dari orang tua ini yang justru bisa menjadi racun dalam pribadi anak.

Kita tentu sepakat bahwa tidak ada orang tua yang secara sengaja ingin membuat anaknya menderita atau berlaku kejam pada anaknya. Akan tetapi, orang tua juga manusia. Mereka juga bisa berbuat salah yang tanpa disadari bisa menjadi racun dalam diri anak. Mungkin, kita pun tanpa disadari telah menjadi korban toxic parents dari pola asuh atau perilaku dari orang tua kita dulu.

Apa saja perbuatan yang masuk dalam kategori Toxic Parents?

1. Ekspektasi Berlebihan

Ini adalah salah satu tanda toxic parents yang paling sering terjadi dan kita sendiri pun pasti pernah mengalaminya. Ada kalanya mimpi dan cita-cita anak dibuyarkan dengan ekspektasi-ekspektasi orang tua sendiri yang berlebihan.

Ketika anak-anak ingin menjadi seorang musisi, orang tua membuyarkan mimpi-mimpinya dengan memberikan segala komentar negatif tentang musisi. Lalu mengarahkan anak untuk menjadi apa yang orang tua inginkan.

Dengan ekspektasi yang tinggi, orang tua berpikir bahwa ini adalah untuk kebaikan anak. Mereka akan bahagia jika menuruti apa yang telah orang tua rencanakan untuknya. Akan tetapi, seharusnya orang tua pun bisa berpikir dari sudut pandang anak.

Apakah “ini” memang menjadi mimpi anak? Apakah anak mampu untuk memenuhi semua ekspektasi kita?

Sering kita temui bahwa ekspektasi yang berlebihan tanpa memikirkan posisi anak akan membuat anak-anak terbebani. Ini sering ditemukan pada orang tua generasi terdahulu. Apakah tidak sebaiknya generasi kita memutus mata rantai perilaku ini?

2. Membicarakan Keburukan Anak

Sama seperti orang tua, anak-anak sejatinya juga memiliki harga diri. Ucapan sepele seperti, “Waduh, anakku ini susah sekali disuruh bangun pagi!” juga termasuk kategori membicarakan keburukan anak. Anda harus tahu bahwa membicarakan keburukan anak, apalagi didengar langsung oleh si anak bisa melukai hatinya.

Jika hal ini terus dilakukan, anak-anak bisa kehilangan kepercayaan diri, menumbuhkan sikap rendah diri, dan mempermalukan anak. Sebagai orang tua, sebaiknya jagalah privasi anak.

3. Egois

Orang tua dengan kriteria ini biasanya selalu mengukur segala sesuatu sesuai dengan perasaannya. Perasaan orang tua adalah salah satu tolak ukurnya. Pernahkan Bunda jengkel kemudian memarahi anak dengan kalimat, “Apa kalian tidak kasihan dengan Bunda? Apa kalian ingin Bunda cepat mati?”

Sepertinya sepele, ya, Parents. Akan tetapi, tindakan seperti ini bisa membuat anak merasa terbebani. Mereka harus bertanggung jawab atas perasaan orang tuanya.

Bila maksudnya adalah agar anak memahami perasaan orang lain atau agar anak bisa berempati, sebaiknya gunakan cara lain yang lebih efektif, tentu dengan pendekatan yang tepat pula.

4. Menjadi Monster

Jika Anda tidak ingin anak Anda menjadi monster, janganlah bersikap seperti monster. Orang tua yang suka memukul dan membentak anak adalah monster bagi anak-anak. Mungkin, tujuannya adalah agar anak bisa disiplin dan tidak manja. Akan tetapi, tindakan seperti ini justru akan membuat anak menjadi monster seperti Anda.

Anda harus sadar bahwa tugas orang tua adalah memberikan rasa aman untuk anak-anaknya. Kekerasan bukanlah tindakan yang tepat untuk mendidik anak-anak.

5. Menjadi Rentenir

Ini adalah istilah untuk orang tua yang selalu mengungkit tentang besarnya biaya yang telah dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan anak. Hal tersebut dijadikan alat supaya anak-anak mengikuti kemauannya. Semacam mekanisme pertahanan orang tua ketika anak-anak ingin menentukan jalan hidupnya sendiri.

Sebagai anak, kita tentu sepakat bahwa orang tua telah berkorban begitu banyak untuk anak-anak demi masa depan anak yang cemerlang. Akan tetapi, sekali lagi, anak-anak juga berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Jangan memaksa anak untuk mewujudkan mimpi orang tua yang belum tercapai.

6. Melontarkan Candaan yang Mengecilkan Hati Anak

Lelucon ringan tentang warna kulit, bentuk tubuh, atau rambut yang gimbal sekilas terlihat biasa saja. Orang tua sering sekali membuat hal tersebut sebagai bahan candaan di depan saudara. Akan tetapi, pernahkah Anda melihat bagaimana ekspresi anak saat Anda melontarkan candaan-candaan tersebut?

Jika anak terlihat sedih atau marah, itu artinya candaan kita sudah keterlaluan. Hal ini bukan berarti anak Anda “drama” atau terlalu sensitif. Anda telah melanggar privasinya sebagai sesama manusia. Bisa jadi, harga dirinya terluka. Untuk itu, segeralah meminta maaf.

7. Selalu Menyalahkan Anak

Selayaknya kehidupan, naik-turun adalah hal yang sangat wajar. Kita tidak bisa selalu mengharapkan kehidupan yang baik.

Ada satu sisi di mana keluarga sedang dalam kondisi yang buruk, orang tua selalu menyalahkan anak.  Jika Anda berlaku demikian, itu berarti Anda telah menjadi toxic parents untuk anak-anak Anda.

Efek Negatif Toxic Parents

Toxic Parents memberikan efek negatif yang sangat besar untuk anak-anak. Anak-anak bisa tersiksa secara mental. Anak tipe penurut akan berusaha sekeras mungkin untuk membahagian orang tuanya dengan cara menekan segala hal yang mereka inginkan. Di sisi lain, anak tipe pemberontak akan menjelma menjadi pembangkang untuk orang tuanya.

Keduanya jelas bukan suatu hal yang baik. Toxic parents berdampak pada keadaan psikologis anak. Anak-anak bisa menderita sakit mental maupun fisik. Anak-anak bisa mengalami stres berkepanjangan. Efek paling buruknya adalah anak bisa berubah menjadi “monster” yang menakutkan, terutama untuk anak-anak mereka kelak.

 

 

Sumber: School of Parenting

Seberapa suka dengan artikel ini?

Berikan Komentar