Parenting

Mental Anak Kuat Dengan Kompetisi Sehat

Oleh Nabila Ramadhanty   |   

A: “Bonekaku lebih besar dari bonekamu”

B: “Ah, tapi kan bonekaku lebih banyak dari bonekamu”

 

Sebagai orangtua tentu pernah mendengar anak berbicara seperti situasi di atas saat bermain dengan temannya. Tak ada yang aneh dengan obrolan yang dilakukan oleh anak tersebut. Banyak dari orangtua bahkan menganggap hal tersebut adalah wajar karena semua anak juga mengalaminya.

Namun, tahukah Anda bahwa dari obrolan tersebut sebenarnya kita bisa mengetahui bahwa setiap anak memiliki jiwa kompetitif satu dengan lainnya? Jiwa untuk berkompetisi tersebut akan terus tumbuh dalam diri anak hingga dewasa nanti.

Jiwa kompetitif inilah yang sering ingin dipupuk dan diperkuat oleh orangtua guna mempersiapkan anak menghadapi persaingan hidup saat dewasa. Wajar memang melihat orangtua terus berusaha mempersiapkan anak menghadapi dunianya kelak. Apalagi kehidupan terus tumbuh maju dan seringkali kemampuan untuk berkompetisi sangat dibutuhkan untuk bertahan.

Sejak Kapan Anak-Anak Mulai Berkompetisi?

Kira-kira sejak usia berapa sih anak-anak mulai berkompetisi? Dilansir dari parenting.co.id, menurut Dr. Chintya E. Johnson dari North Carolina State University, anak-anak sebenarnya mulai berkompetisi sejak usianya 5 tahun. Mungkin bukan berarti kompetisi dalam suatu perlombaan, namun lebih seperti situasi membandingkan mainan siapa yang lebih besar, atau mainan siapa yang lebih banyak, dan hal sederhana lainnya.

Meskipun anak-anak usia 5 tahun sudah mulai berkompetisi, sebenarnya mereka belum memahami makna kompetisi. Salah satu hal yang mereka pikirkan adalah bahwa mereka ingin menang dan unggul dari temannya yang lain. Anak-anak juga akan merasa senang jika bisa menang dari temannya.

Sebaliknya, anak-anak bisa merasa tidak berminat untuk berkompetisi tentang sesuatu jika ia merasa kalah dari yang lain.

Nah, baru pada usia 10-11 tahun, anak-anak mulai bisa menerima kekalahan atau kekecewaan. Mereka mulai mengerti bahwa tidak semua hal bisa diperoleh sesuai keinginan dan kehendak sendiri.  Sayangnya, pada usia inilah masalah bisa saja muncul jika kedua orangtua selalu menginginkan anaknya menjadi pemenang.

ajarkan anak kompetisi sehat

Apakah Tujuan Berkompetisi Hanya untuk Menang dan Sukses?

Selama ini banyak orangtua yang menganggap bahwa berkompetisi semata-mata hanya untuk mencari kemenangan dan kesuksesan. Artinya, masih banyak orangtua yang mendorong anak berkompetisi hanya untuk menang dan sukses.

Padahal, sejak akhir 1800-an, para ahli telah melakukan penelitian bahwa dengan mendorong anak bekerja sama maka memberikan lebih banyak manfaat bagi anak. Beberapa manfaat bekerja sama menurut para ahli adalah:

  • Anak-anak mampu mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
  • Anak-anak lebih kreatif.
  • Lebih baik dalam berkomunikasi dengan orang lain.
  • Memiliki rasa empati.

Dilansir dari edukasi.kompas.com, menurut pimpinan perusahaan LEGO, Jorgen Vig Knudstorp, setiap orang perlu memiliki semangat berkompetisi untuk menstimulasi pikiran mencari ide-ide baru, terobosan yang lebih baru dan segar melampaui apa yang dipikirkan sebelumnya.

Berkompetisi juga seharusnya dimaknai sebagai usaha untuk mempersiapkan anak menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Dan, bukan semata-mata untuk mencari kemenangan dan kesuksesan.

Apa yang Perlu Dilakukan Orangtua?

Perlu disadari bahwa berkompetisi sebenarnya bukan untuk kemenangan atau kesuksesan semata. Setiap orangtua wajib mendorong anak-anak untuk berkompetisi secara sehat sambil berusaha untuk mendorong anak bekerja sama dengan teman-teman lainnya.

Bagaimana Cara Agar Anak Berkompetisi Secara Sehat dan Mampu Bekerjasama?

  • Berlatih dengan keluarga

Cara pertama untuk mengajarkan anak berkompetisi secara sehat sekaligus bekerja sama adalah dengan melatih anak di lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Dalam berbagai kesempatan bersama keluarga, latih anak menjadi pemimpin dan pengikut.

Tujuannya agar anak belajar mengambil keputusan dan tentunya memikirkan kebutuhan setiap anggota keluarga. Misalnya, meminta anak menjadi pemimpin doa sebelum makan bersama dengan anggota keluarga.

Anak akan belajar bagaimana mengumpulkan anggota keluarga untuk kemudian berdoa bersama-sama. Anak juga mungkin akan berpikir untuk menunggu salah satu anggota keluarga yang harus cuci tangan terlebih dahulu sebelum makan.

  • Kenalkan Anak dengan Permainan Kelompok dan Permainan Kompetisi

Cara mengajarkan anak berkompetisi selanjutnya juga bisa dengan mengenalkan anak berbagai macam permainan kelompok dan permainan yang membutuhkan kompetisi.  Melalui permainan ini, anak belajar membuat strategi dan saling bekerjasama untuk unggul dalam permainan.

  • Persiapkan Anak Menerima Kekalahan dan Kekecewaan

Penting bagi Anda untuk mempersiapkan mental anak menerima kekalahan dan merasa kecewa atas sesuatu yang sudah diusahakan. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan meminta anak memasukkan bola dalam keranjang.

Batasi waktu melempar anak misalnya hanya dalam 1 menit. Kira-kira berapa bola yang bisa dimasukkan anak? Tentunya tidak setiap kesempatan anak bisa memasukkan bola dengan jumlah yang sama. Dari sini anak belajar bahwa tidak semua usaha yang dilakukan bisa membuahkan hasil maksimal. Inilah cara mengajarkan anak berkompetisi secara sehat dengan dirinya sendiri.

  • Ajari Anak Bersikap Sportif dalam Kompetisi

Mengajari anak berkompetisi secara sehat tentu saja harus diiringi dengan mengajarkan sportivitas pada anak. Jangan biarkan anak menempuh segala cara hanya untuk menang. Hindari memanipulasi anak untuk bertindak curang dalam segala bidang kompetisi.

  • Selalu Dampingi Anak

Cara selanjutnya yang tidak kalah penting dalam mengajarkan anak berkompetisi secara sehat adalah dengan selalu mendampingi anak. Perhatian yang Anda berikan pada anak bermanfaat untuk menumbuhkan semangatnya berkompetisi dalam kehidupannya.

Jiwa kompetitif anak sebenarnya mulai terlihat sejak mereka berusia dini. Tugas orangtua selanjutnya adalah memupuk dan mengarahkan anak-anak untuk berkompetisi yang sehat.

Hindari menekan anak untuk selalu menang dalam berbagai kompetisi. Sebaliknya, katakan pada anak bahwa, selama anak melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati dan maksimal, maka hal itulah yang menjadi kebanggaan orangtua. Meskipun hasil yang diperoleh bukanlah menjadi pemenang, yang paling penting anak sudah berusaha dengan maksimal.

 

Sumber: School of Parenting

Seberapa suka dengan artikel ini?

Berikan Komentar